Sinode Gereja Kristus Yesus
Gereja Yang Mulia Dan Missioner
Kata Yesus, "Kamu adalah Terang Dunia"
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma 8:29)
Literatur   »   GEMA   »   2014   »   Maret   »   

Allah atau “dia” yang Berkuasa?

26 Maret 2014
Renungan GEMA
Mengenal Allah Melalui Kitab 2 Raja-raja

Alkitab selalu menyaksikan siapa Allah melalui segala karya dan perbuatan-perbuatan-Nya di dalam sejarah bangsa-bangsa, yaitu bahwa Allah itu berdaulat dan penuh kasih. Sekalipun demikian, Dia tidak akan segan-segan untuk menghukum/mendisiplin mereka yang tidak menaati-Nya. Hal itu disebabkan karena Allah sangat membenci dosa dan Ia tidak akan bersikap “pandang bulu”. Siapa pun yang melanggar perintah-Nya pastilah Ia hukum, termasuk umat pilihan-Nya, Israel, seperti yang kita baca dalam kitab 2 Raja-raja. Sejarah kitab 2 Raja-raja terbagi atas dua bagian utama:

• Pertama, Sejarah kedua kerajaan sebelum keruntuhan Kerajaan Israel Utara (yang terdiri dari sepuluh suku) pada tahun 722 BC (pasal 1-17).

• Kedua, Sejarah Kerajaan Yehuda (Israel Selatan) setelah keruntuhan Kerajaan Israel Utara hingga kejatuhannya sendiri pada tahun 586 BC (pasal 18-25).

Kitab 2 Raja-raja mengambarkan kejatuhan sebuah kerajaan yang terpecah. Para nabi terus memperingatkan umat Allah tentang penghukuman Allah yang dekat, namun mereka tidak mau bertobat. Kerajaan Israel Utara dipimpin oleh raja-raja yang jahat, sedangkan raja-raja Kerajaan Yehuda sebagian baik dan sebagian jahat.

Di tengah kemurtadan hebat yang terjadi di Israel, Allah membangkitkan nabi-nabi perkasa seperti Nabi Elia dan Nabi Elisa untuk memanggil bangsa itu dan para pemimpinnya agar kembali kepada Allah dan perjanjian-Nya (pasal 1-9). Kitab 2 Raja-raja melanjutkan penelusuran kemerosotan Kerajaan Israel Utara dan Yehuda, yang dimulai sekitar tahun 852 BC. Kitab ini mencatat dua musibah nasional besar yang mengakibatkan hancurnya kedua kerajaan itu: Pertama, penghancuran kota Samaria, ibu kota Israel Utara, dan pembuangan penduduk negeri itu ke Asyur pada tahun 722 BC. Kedua, penghancuran kota Yerusalem dan pembuangan rakyat Yehuda ke Babel pada tahun 586 BC. Sekalipun nantinya umat Allah berada dalam tawanan, sejarah membuktikan bahwa Allah tetap setia pada perjanjian-Nya dengan memelihara sisa-sisa bangsa itu bagi diri-Nya sendiri. Bahkan, Perjanjian Baru menunjukkan dengan jelas bahwa Allah di dalam kesetiaan-Nya menggenapi janji perjanjian-Nya kepada Daud melalui Yesus Kristus, “Anak Daud” (Matius 1:1; 9:27; 21:9), yang masa pemerintahan dan kerajaan-Nya takkan pernah berakhir (Lukas 1:32-33; bandingkan dengan Yesaya 9:6). [DP]



Rabu, 26 Maret 2014


Bacaan Alkitab hari ini: 2 Raja-raja 1

“Like father, like son”, demikianlah kata pepatah yang artinya adalah bahwa kebiasaan yang dilakukan oleh seorang anak sama atau mirip dengan kebiasaan yang dilakukan oleh orang tuanya. Dalam bacaan Alkitab hari ini, diceritakan bahwa pada suatu hari, Raja Ahazia—anak Raja Ahab—terluka karena jatuh. Raja Ahazia mengutus orang untuk meminta petunjuk dari para imam atau nabi dari Baal-Zebub, yaitu ilah di Ekron, di negeri Filistin (1:2). Secara tidak langsung, misi ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Raja Ahazia, bukan Allah—melainkan Baal—yang dianggap berkuasa dan mampu menjadi penentu/pengendali masa depannya. Tentu saja hal itu membuat TUHAN sangat marah. Akibatnya, Tuhan menetapkan bahwa Ahazia tidak akan sembuh dari sakitnya (1:3-4, bandingkan dengan ayat 17, “Maka matilah raja sesuai dengan firman TUHAN yang dikatakan oleh Elia”).

Jika Raja Ahazia menggantungkan kehidupan dan masa depannya pada nabi Baal dan menganggap Baal sebagai Tuhan yang berkuasa, bagaimana dengan kita? Pada saat pergumulan hidup menerpa kehidupan kita—entahkah itu berupa sakit-penyakit, pasangan hidup yang mengkhianati kita, anak-anak yang sulit diatur, krisis ekonomi rumah tangga, tekanan pekerjaan di kantor, dan lain-lain—bagaimanakah kita menyikapi masalah seperti itu? Apakah kita seperti Raja Ahazia yang mencari orang atau ilah yang bukan Tuhan yang berkuasa untuk mengatur dan mengendalikan hidup kita supaya menjadi lebih baik? Apakah kita mencari orang atau ilah lain yang dianggap berkuasa untuk menentukan masa depan kita? Sebaliknya, apakah kita justru mencari Tuhan dan menyerahkan segala persoalan hidup kita kepada Dia yang kita percayai sebagai Allah yang berkuasa atas segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita. Pilihan ada di tangan Anda! [DP]


Yesaya 55:6
“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui;
berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!”
COPYRIGHT © 2013 Gereja Kristus Yesus. Developed by Aqua-Genesis Web Development and Design