Sinode Gereja Kristus Yesus
Gereja Yang Mulia Dan Missioner
Kata Yesus, "Kamu adalah Terang Dunia"
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma 8:29)
Literatur   »   GEMA   »   2019   »   Januari   »   

Menjaga Kesalehan Hidup

Selasa, 29 Januari 2019
Renungan GeMA
Bacaan Alkitab hari ini : Ayub 31

Keinginan Ayub untuk membela diri di hadapan Allah tidak boleh ditafsirkan sebagai sikap memberontak kepada Allah. Kita perlu memahami bahwa masyarakat masa itu berkeyakinan bahwa penderitaan merupakan wujud hukuman Allah. Ayub pun juga memiliki pemahaman yang sama. Akan tetapi, karena Ayub tidak merasa bersalah, dia menjadi kebingungan saat dia tertimpa berbagai bencana yang dahsyat. Oleh karena itu, pembelaan diri Ayub harus dipahami sebagai keinginan untuk mencari penjelasan tentang mengapa dia harus mengalami penderitaan. Dalam pasal 31 ini, Ayub mengemukakan bahwa dia tidak bersalah dalam berbagai hal, bukan hanya menyangkut perbuatan, tetapi juga menyangkut pikiran (31:1, 9). Dia bukan hanya mempertahankan kehidupan moral yang bersih, tetapi dia juga melaksanakan kewajiban sosialnya (31:13-22, 31-32). Ayub juga mengemukakan bahwa dia tidak gila harta (31:24-25) dan tidak menyembah ilah lain (matahari, bulan; 31:26-27). Terhadap orang yang bersikap memusuhi pun, Ayub tetap bersikap baik (31:30). Ayub tidak pernah melalaikan tanggung jawabnya (31:38-40).

Tidak mudah bagi kita untuk menemukan orang yang baik dan sungguh-sungguh berusaha menjaga kesucian hidup seperti Ayub. Sekalipun sudah berusaha menempuh kehidupan yang baik, Ayub tetap saja tidak bebas dari kesengsaraan. Oleh karena itu, jelas bahwa penderitaan bisa menimpa siapa saja: orang jahat maupun orang baik, orang miskin maupun orang kaya. Sekalipun demikian, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa menempuh kehidupan yang baik itu tidak ada manfaatnya. Bila kita menjalani kehidupan yang baik, berarti bahwa kita sedang mengikuti kehendak Allah, dan kita bisa memiliki keyakinan bahwa Allah bisa memakai peristiwa apa pun (termasuk penderitaan) untuk mendatangkan kebaikan terhadap diri kita (Roma 8:28).

Pada zaman ini, nilai moral masyarakat menjadi semakin kacau. Hal-hal yang pada zaman dulu dianggap tabu sekarang dilakukan secara terang-terangan. Koruptor yang tertangkap tangan pun bisa melambaikan tangan sambil melempar senyum. Dalam situasi semacam ini, orang beriman perlu meneladani Ayub untuk menjalani kehidupan yang baik dan saleh (sesuai dengan kehendak Tuhan). Bila Anda ingin agar hidup Anda diperkenan Tuhan, jangan takut menderita! Apakah Anda berani menentang arus dengan selalu berusaha menjaga kesucian hidup? [P]
COPYRIGHT © 2013 Gereja Kristus Yesus. Developed by Aqua-Genesis Web Development and Design