Sinode Gereja Kristus Yesus
Gereja Yang Mulia Dan Missioner
Kata Yesus, "Kamu adalah Terang Dunia"
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma 8:29)
Literatur   »   GEMA   »   2019   »   Februari   »   

Miskin di Hadapan Allah

Jumat, 22 Februari 2019
Renungan GeMA
Bacaan Alkitab hari ini : Matius 5:1-12

Matius 5-7 dikenal sebagai serial khotbah di bukit karena Tuhan Yesus menyampaikannya selama beberapa hari di daerah perbukitan di Kapernaum. Khotbah di bukit menantang pemimpin saat itu yang penuh kesombongan dan legalistik. Tuhan Yesus memulai khotbah-Nya dengan ucapan bahagia (5:1-12) yang terlihat berkontradiksi dengan dunia. Dia memperlihatkan nilai hidup (yang bersifat kekal) yang berbeda dengan nilai hidup dunia (yang bersifat sementara), yang membedakan iman sejati dan iman di permukaan (kulit) saja.

Kata "berbahagia" (berasal dari kata Yunani Makarios) bukan sekadar berarti kesenangan biasa, melainkan kondisi diberkati Allah. Tuhan Yesus tidak menjanjikan hidup yang penuh kenyamanan, kekayaan, dan selalu penuh tawa, tetapi hidup yang diberkati Allah dalam arti hidup yang mengandung pengharapan dan sukacita sejati yang melampaui keadaan. Apa ciri orang berbahagia yang memiliki Kerajaan Sorga? Salah satu cirinya adalah "miskin di hadapan Allah" (5:3). Kata "miskin"(berasal dari kata Yunani Ptokos) berarti kondisi tidak memiliki apa-apa lagi (bangkrut). Perkataan "miskin di hadapan Allah" menunjuk kepada orang yang sadar betul bahwa dirinya tidak layak menghadap hadirat Allah yang kudus dan dirinya tidak bisa bersandar pada kebaikan dan kemampuan diri sendiri untuk memperoleh perkenanan Allah. Apakah yang paling dibutuhkan oleh seorang yang tidak memiliki apa-apa lagi? Jelaslah bahwa orang seperti itu hanya bisa mengharapkan belas kasihan dan kemurahan Allah. Orang Kristen adalah orang yang telah dan terus disadarkan bahwa keberadaan dirinya bukanlah ditopang oleh kemampuan dan kebaikan diri sendiri, tetapi semata-mata hanya bersandar pada belas kasihan dan kemurahan Allah.

Semakin lama menjadi anak-anak Allah, apakah kita makin membutuhkan dan makin mengandalkan Tuhan? Bila kita menjawab "ya", apakah hal itu tercermin dalam waktu yang kita sisihkan untuk berdoa? Hidup yang bergantung pada Tuhan pastilah hidup yang penuh doa. Doa adalah ungkapan relasi dengan Tuhan yang menyadarkan kita bahwa kita tidak mampu menjalani hidup tanpa pimpinan Tuhan. Doa adalah pernyataan hati bahwa kita menginginkan Tuhan berjalan di depan kita. Mintalah belas kasihan Tuhan agar kita mampu menyisihkan waktu untuk berdoa, baik secara pribadi maupun secara berkelompok! [FL]
COPYRIGHT © 2013 Gereja Kristus Yesus. Developed by Aqua-Genesis Web Development and Design