Sinode Gereja Kristus Yesus
Gereja Yang Mulia Dan Missioner
Kata Yesus, "Kamu adalah Terang Dunia"
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma 8:29)
Literatur   »   GEMA   »   2019   »   April   »   

Dia Dijatuhi Hukuman Mati Secara Ironis

Kamis, 18 April 2019
Renungan GeMA
Bacaan Alkitab hari ini : Matius 27:1-31

Kisah sengsara Tuhan Yesus memasuki salah satu tahapan yang sangat menentukan, yakni Ia dijatuhi hukuman mati oleh Pilatus. Yang menarik, penulis Injil menggunakan tema ironi untuk menekankan bahwa peristiwa ini terjadi bukan hasil rancangan kehendak manusia, melainkan merupakan bagian dari rancangan Allah. Ironi pertama dilakukan para pemimpin agama Yahudi dengan mengirim Tuhan Yesus kepada Pilatus agar Ia dijatuhi hukuman mati oleh wali negeri tersebut. Tindakan ini salah kaprah karena tuduhan kepada Tuhan Yesus adalah penghujatan agama yang di luar kewenangan Pilatus. Ironi kedua terjadi pada Yudas yang seharusnya bersukacita karena pengkhianatannya berhasil dan ia mendapat uang. Namun, ia justru menyesal dan mati menggantung diri. Uang hasil pengkhianatannya tidak dapat diterima sebagai persembahan. Ironi ketiga dilakukan oleh Pilatus. Ia memiliki banyak alasan untuk melepaskan Tuhan Yesus, antara lain bahwa tuduhan yang disampaikan di luar kewenangannya, tidak ditemukan kesalahan apa pun pada-Nya, dan pesan istrinya agar ia membebaskan-Nya. Namun, ia justru mencuci tangan dan memvonis Tuhan Yesus dengan hukuman mati untuk menyenangkan orang banyak. Ironi keempat terjadi pada Barabas yang seharusnya mati disalib karena dosanya, justru dibebaskan. Ironi kelima dilakukan oleh orang banyak yang justru bersedia menanggung kesalahan akibat menumpahkan darah Tuhan Yesus, padahal Tuhan Yesus menumpahkan darah-Nya untuk pengampunan dosa banyak orang.

Ironi terbesar dialami oleh Tuhan Yesus. Walaupun pada dirinya sama sekali tak ditemukan dosa dan kesalahan, ia justru dijatuhi hukuman mati. Kristus—Raja Sorga yang mahamulia—justru dihina dan dipermalukan. Kristus—Hakim yang Mahaadil—justru dihakimi dengan cara yang tidak adil. Kristus—Sang Penasihat Ajaib justru diam ketika diserang dengan tuduhan palsu. Kristus—Allah yang Mahakuasa—justru membiarkan tubuh-Nya dicambuk dan dipukul. Semua ironi tersebut dijalani Tuhan Yesus karena untuk itulah Ia datang, yakni untuk menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan dosa dunia.

Semua perlakuan ironis yang dialami Tuhan Yesus mengungkapkan betapa besar pengorbanan-Nya untuk menyelamatkan umat manusia. Ia tidak hanya menderita secara fisik, tetapi juga secara rohani dan emosi. Setelah diselamatkan, sudahkah kehidupan kita membuktikan penghargaaan kita atas pengorbanan-Nya? [TF]
COPYRIGHT © 2013 Gereja Kristus Yesus. Developed by Aqua-Genesis Web Development and Design