Sinode Gereja Kristus Yesus
Gereja Yang Mulia Dan Missioner
Kata Yesus, "Kamu adalah Terang Dunia"
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma 8:29)
Literatur   »   GEMA   »   2019   »   Juli   »   

Penghargaan Terhadap Martabat Manusia

Sabtu, 13 Juli 2019
Renungan GeMA
Bacaan Alkitab hari ini : Keluaran 21

Keluaran 21 mencatat berbagai peraturan untuk umat Israel. Bagi kita, beberapa peraturan terasa janggal—misalnya peraturan tentang masalah budak (21:1-11)—karena saat ini sudah tidak ada lagi perbudakan. Pertama-tama, sadarilah bahwa adanya peraturan tentang perbudakan tidak berarti bahwa Allah mendukung perbudakan. Sadari juga bahwa peraturan tentang perbudakan itu disampaikan dalam konteks masyarakat kuno, saat perbudakan merupakan kelaziman. Allah memahami kelemahan dan keterbatasan manusia yang telah tercemar oleh dosa, sehingga Ia memberikan peraturan tentang perbudakan dengan maksud agar praktik perbudakan dilaksanakan dengan lebih menghargai martabat manusiawi para budak. Allah mengingatkan umat Israel di zaman Musa bahwa mereka adalah mantan budak di Mesir, dan bahwa Allah telah menebus mereka (Ulangan 15:15). Seharusnya, prinsip yang melandasi sikap bangsa Israel terhadap para budak adalah kasih, yaitu "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Imamat 19:18).

Meskipun sudah tidak ada sistem perbudakan dalam perekonomian saat ini, relasi tuan-hamba, atasan-bawahan, dan pemilik usaha-karyawan tetap ada. Perilaku tidak adil, tekanan, bahkan kekerasan, masih bisa dialami oleh hamba, bawahan, dan karyawan. Bentuk ketidakadilan itu misalnya berupa: 1) Pembagian bonus atau tunjangan yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku baik dari sisi nominal maupun sisi waktu pembagian; 2) Fasilitas dan lingkungan kerja yang mengabaikan kepentingan bawahan (seperti tidak tersedianya makanan dan minuman sehat, cahaya, serta ventilasi yang memadai); 3) Kata-kata kasar dari atasan terhadap pegawai; serta 4) Perilaku tidak manusiawi seperti tuntutan jam kerja yang melewati batas kewajaran.

Tindakan berdasarkan kasih dan penghargaan terhadap martabat manusiawi seharusnya dapat dipraktikkan saat ini. Perjanjian Baru memberi beberapa petunjuk: 1) Allah yang menciptakan para tuan sama dengan Allah para hamba. Pribadi Sang Khalik yang sama wajib disembah dan ditakuti, baik oleh majikan maupun bawahan, sebab Allah tidak pernah memandang muka (Efesus 6:9). 2) Setiap orang wajib melakukan segala sesuatu yang baik dalam hidupnya (Efesus 6:8, 5:2). 3) Segala tindakan harus dilakukan seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia (Efesus 6:7, Kolose 3:23). 4) Tuhan Yesus bersabda, "Kasihilah seorang akan yang lain," (Yohanes 15:17). [Pdt. Emanuel Cahyanto Wibisono]
COPYRIGHT © 2013 Gereja Kristus Yesus. Developed by Aqua-Genesis Web Development and Design