Sinode Gereja Kristus Yesus
Gereja Yang Mulia Dan Missioner
Kata Yesus, "Kamu adalah Terang Dunia"
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma 8:29)
Literatur   »   Artikel   »   

Hidup Demi Injil

Selasa, 6 Agustus 2019
Paulus adalah seorang rasul yang dipanggil dan dikhususkan Tuhan untuk memberitakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi. Panggilan ini ditaati oleh Rasul Paulus dalam seluruh aspek kehidupannya. Dapat dikatakan, bahwa Rasul Paulus adalah seorang rasul yang mempersembahkan seluruh hidupnya untuk memberitakan Injil. Ia dianiaya oleh orang-orang yang tidak menyukai pemberitaannya, namun ia tidak menjadi lemah atau goyah. Demi memberitakan Injil, ia rela untuk tidak menuntut haknya untuk menerima tunjangan hidup dari jemaat Korintus. Ia merasa dibandingkan dengan rasul-rasul lain, disepelekan, direndahkan, dan diragukan otoritas kerasulannya oleh jemaat Korintus. Sekalipun demikian, ia malah merasa bangga atas apa yang ia beritakan dan atas kesempatan menginjili tanpa upah. Ia berusaha menyesuaikan hidupnya sedemikian rupa agar Injil dapat diberitakan dengan efektif. Ia rela untuk tidak makan makanan tertentu agar tidak menimbulkan syak (kecurigaan) dalam hati orang lain, sehingga orang itu tetap dapat mendengar Injil yang ia beritakan. Injil menjadi segala-galanya dalam kehidupan Rasul Paulus.

Kita perlu menyadari bahwa panggilan untuk memberitakan Injil bukan hanya panggilan bagi Rasul Paulus, melainkan panggilan bagi semua orang percaya. Rasul Paulus menasihati dan menegur jemaat di Korintus supaya mereka memiliki kehidupan yang baik agar bisa menjadi saksi bagi pemberitaan Injil. Gereja tidak boleh terpecah-belah! Jangan hidup seperti manusia duniawi yang mementingkan dan mem-anggakan diri sendiri, melainkan hiduplah sebagai orang Kristen yang dewasa (manusia rohani). Anggota jemaat tidak boleh hidup seperti orang yang belum mengenal Allah, melainkan mereka harus hidup lebih baik dan memiliki tingkat moral yang lebih tinggi daripada orang yang belum percaya. Hindarilah hal-hal yang dapat merugikan pemberitaan Injil seperti membawa perkara dengan saudara seiman ke pengadilan umum untuk diadili oleh orang yang belum percaya! Rasul Paulus juga menasihati dan menegur jemaat agar hidup menghindari kecemaran dan percabulan karena tubuh jasmani kita adalah bait Roh Kudus. Rasul Paulus meminta jemaat agar mengikuti teladan hidup-nya. Sebagaimana ia rela melepaskan haknya untuk mendapat tunjangan hidup, ia meminta jemaat agar melepaskan hak untuk memakan daging yang sudah dipersembahkan kepada berhala agar tidak menimbulkan syak dalam hati orang percaya maupun orang tidak percaya. Paulus menekankan bahwa semua orang percaya harus menjadi saksi Kristus yang memberitakan Injil-Nya.

Bagaimana kita bisa meneladani kehidupan Rasul Paulus? Apa yang membuat ia demikian bersemangat dalam memberitakan Injil? Apakah semangat yang luar biasa itu disebabkan karena ia adalah seorang rasul? Apakah semangat yang sama bisa dimiliki oleh seorang yang bukan rasul? Di satu sisi, benar bahwa Rasul Paulus mendapat anugerah Tuhan yang besar sebagai seorang rasul dan pemberita Injil. Di sisi lain, ada rahasia yang membuat ia mempersembahkan hidupnya untuk memberitakan Injil, yaitu:
Pertama, keyakinannya akan kekuatan Injil (1:24). Bagi Rasul Paulus, berita Injil itu mengandung kuasa dan merupakan hikmat Allah yang menyelamatkan semua orang percaya. Tanpa salib Kristus, bagaimanapun hebatnya atau pintarnya seseorang, ia tidak akan beroleh hidup yang kekal. Segala upaya untuk melakukan kebaikan atau amal tidak akan mampu menyelamatkan manusia karena manusia tidak mungkin mencapai standar yang ditetapkan Tuhan. Manusia hanya bisa selamat bila ia percaya kepada Yesus Kristus dan salib-Nya.

Kedua, kesadarannya akan anugrah Allah yang melimpah dalam hidupnya (15:10). Rasul Paulus menyadari bahwa panggilan Tuhan baginya merupakan anugerah yang tidak dapat dibayar oleh apa pun juga. Ia menyadari keberdosaan serta ketidaklayakannya. Sekalipun demikian, Tuhan tidak memperhitungkan kondisinya yang sebenarnya tidak memenuhi syarat itu, tetapi malah memanggil dia untuk menjadi rasul yang bertugas untuk mengabarkan Injil-Nya. Anugerah yang luar biasa ini membuat Rasul Paulus amat bersyukur, sehingga ia berjuang (bekerja keras) untuk melayani Tuhan.

Ketiga, kebangkitan Yesus Kristus merupakan jaminan bagi kebangkitan kita kelak. Rasul Paulus menyadari bahwa hidup di dunia ini singkat. Akan tetapi, ia memiliki pengharapan bahwa kebangkitan orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan terwujud saat Tuhan Yesus datang kembali untuk kedua kali. Keyakinan ini membuat Rasul Paulus meyakini bahwa segala jerih payah yang dilakukannya di dunia yang fana ini tidak akan sia-sia (15:58).

Apakah Anda telah memiliki gairah untuk mempersembahkan hidup Anda guna memberitakan Injil? Dua puluh lima renungan yang diangkat dari surat Rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di kota Korintus ini diharapkan dapat memberikan dorongan dan motivasi bagi setiap orang percaya untuk meneladani kehidupan Rasul Paulus, sehingga kita memiliki gairah dalam menjalankan panggilan Allah yang ditujukan kepada setiap orang percaya untuk mempersembahkan hidup bagi pemberitaan Injil. [GI Wirawaty Yaputri]
COPYRIGHT © 2013 Gereja Kristus Yesus. Developed by Aqua-Genesis Web Development and Design