Sinode Gereja Kristus Yesus
Gereja Yang Mulia Dan Missioner
Kata Yesus, "Kamu adalah Terang Dunia"
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma 8:29)
Literatur   »   GEMA   »   2020   »   Februari   »   

Makna Hidup

Selasa, 11 Februari 2020
Renungan GeMA
Bacaan Alkitab hari ini : Ulangan 34

Ada tiga hal penting yang dapat kita perhatikan dari catatan tentang kematian Musa: Pertama, di akhir hidupnya, Musa disebut sebagai hamba TUHAN (34:5). Ia bukan disebut sebagai pangeran Mesir, pembunuh orang Mesir, pembuat muzijat, atau nabi, tetapi hamba TUHAN. Sebutan ini sederhana, tetapi maknanya sangat berharga. Untuk apakah seseorang memiliki hidup yang begitu hebat, tetapi pada akhir hidupnya, Tuhan tidak berkenan kepadanya? Kemuliaan hidup orang sepeti itu hanya untuk dirinya sendiri. Hal ini berbeda dengan orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan hidup memuliakan Tuhan dengan menjalani hidup sebagai hamba yang melayani Tuhannya. Mudahkah menjalani hidup sebagai seorang "hamba"? Tidak! Kita mungkin senang disebut sebagai "hamba TUHAN", tetapi kita belum tentu sanggup bertahan bila diperlakukan sebagai seorang hamba. Kita akan lebih suka jika orang mengenal dan menghargai gelar atau jabatan kita. Akan tetapi, ingatlah bahwa menjadi pengikut Tuhan berarti menjadi hamba Allah. Seharusnya kepuasan kita adalah saat Allah dimuliakan.

Kedua, Musa¬ósang hamba Tuhan¬ómendapat anugerah istimewa pada akhir hidupnya. Allah memberinya kesempatan untuk melihat Tanah Kanaan yang Ia berikan kepada orang Israel sesuai dengan janji-Nya. Kemudian, Allah memanggil Musa untuk kembali kepada-Nya. TUHAN sendiri yang menguburkan Musa, sehingga tidak ada orang yang tahu di mana letak kubur Musa (34:6). Tidak diizinkan memasuki Tanah Kanaan bukanlah malapetaka bagi Musa karena Ia mati di tangan Allah, Penciptanya, dan saat ini dia bersama-sama dengan Allah sampai selama-lamanya. Arti literal dari perkataan "Lalu matilah Musa..., sesuai dengan firman TUHAN..." (34:5) adalah "Lalu matilah Musa..., dengan perkataan TUHAN." Pada waktu mati, tercatat bahwa mata Musa belum kabur dan kekuatannya belum hilang (34:7). Allah sendiri yang menjemput dan membawa Musa ke surga.

Ketiga, Musa meninggalkan warisan yang luar biasa. Ia menyiapkan penerus pelayanannya, yaitu Yosua. Musa adalah contoh pemimpin yang rendah hati, sekaligus hamba Tuhan yang hatinya lemah lembut (Bilangan 12:3). Musa menjadi teladan dalam hal kesetiaan melayani karena ia tidak meninggalkan pelayanan sampai akhir hidupnya. [GI Wirawaty Yaputri]
COPYRIGHT © 2013 Gereja Kristus Yesus. Developed by Aqua-Genesis Web Development and Design