Sinode Gereja Kristus Yesus
Gereja Yang Mulia Dan Missioner
Kata Yesus, "Kamu adalah Terang Dunia"
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma 8:29)
Literatur   »   GEMA   »   2020   »   April   »   

Reaksi Terhadap Intimidasi

Selasa, 7 April 2020
Renungan GeMA
Bacaan Alkitab hari ini : Markus 14:53-72

Ada beberapa situasi yang memaksa kita mengeluarkan sisi terburuk kita, yaitu waktu kita sendirian, saat diberi kekuasaan dan kekayaan, dan sewaktu kita merasa terintimidasi (terancam).

Tuhan Yesus menghadapi pengadilan yang jelas-jelas tidak adil. Tempat menegakkan keadilan justru menjadi tempat meniadakan keadilan. Asas praduga tak bersalah tak berlaku! Imam-imam kepala—malah seluruh Mahkamah Agama—mencari kesaksian palsu supaya Yesus Kristus bisa dihukum mati, bukan atas nama belas kasihan mencari cara untuk membebaskan Manusia tak berdosa ini. Rasa insecure (perasaan tidak aman) dan iri hati dalam diri mereka menjadi daya dorong yang sangat kuat untuk menyingkirkan Dia. Mereka terintimidasi oleh keberadaan Yesus Kristus. Bukannya menangani perasaan mereka dengan benar, mereka malah membuat banyak orang memberi kesaksian dan tuduhan palsu. Tujuan mereka hanya satu, yaitu bahwa Yesus Kristus harus mati! Bayangkan suasana yang sangat mencekam yang sedang Yesus Kristus hadapi. Situasi seperti itu sangat mengintimidasi bagi kebanyakan kita. Salah ngomong sedikit cukup menjadi bukti dan alasan untuk membenarkan apa yang akan mereka perbuat terhadap Yesus Kristus. Menghadapi tekanan berat itu, Yesus Kristus bergeming. Ia menghadapi semuanya dengan tenang. Hanya satu kalimat yang Ia berikan dan kalimat itu justru dipakai untuk menjatuhkan Dia. Ia harus menyatakan kebenaran, apa pun risikonya!

Lain lagi dengan Petrus. Dia sangat terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang terasa sangat menyudutkannya. Seperti merasa sedang diinterogasi, Petrus dengan gelisah menjawab setiap "tuduhan" bahwa ia selalu bersama-sama dengan Yesus Kristus. Jelas bahwa Petrus merasa sangat terintimidasi! Saat terintimidasi, orang menjadi takut dan terancam. Reaksi paling umum adalah membela diri. Akan tetapi, ekspresi pembelaan diri yang tidak tepat menimbulkan kebohongan, penyangkalan diri yang negatif, bahkan kehilangan akal sehat, dan sebagainya.

Saat ini, kita belum sampai mengalami situasi mencekam sehubungan dengan panggilan kita dalam mengikut Yesus Kristus. Seandainya kondisi semacam itu terjadi, apakah sikap (hati) kita seperti Yesus Kristus atau seperti Petrus? Dalam bentuk berbeda, intimidasi pasti terjadi dalam hidup kita. Bagaimana kita menanganinya: Bersaksi atas nama kebenaran atau membela diri dengan penyangkalan-penyangkalan? [GI Mario Novanno]
COPYRIGHT © 2013 Gereja Kristus Yesus. Developed by Aqua-Genesis Web Development and Design