Sinode Gereja Kristus Yesus
Gereja Yang Mulia Dan Missioner
Kata Yesus, "Kamu adalah Terang Dunia"
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma 8:29)
Literatur   »   GEMA   »   2015   »   Juli   »   

Tak Terjangkau dengan Akal

1 Juli 2015
Renungan Gema
Mengenal Nabi Yehezkiel

Sebutan “Yehezkiel” dalam bahasa Ibrani berarti, “Semoga Allah (El) menguatkan”. Nama ini memiliki arti yang sama dengan nama Hizkia (artinya, “TUHAN atau Yahweh menguatkan”). Nabi Yehezkiel, bersama dengan Nabi Yeremia, Nabi Zakharia, dan juga Yohanes Pembaptis, adalah nabi-nabi yang merupakan keturunan imam (Yehezkiel 1:3; Yeremia 1:1; Zakharia 1:1 & Nehemia 12:1-4; Lukas 1:5 & 1:13). Walaupun Yehezkiel disebut sebagai seorang imam, tidak ada catatan bahwa Yehezkiel pernah menjalankan tugas sebagai seorang imam di Bait Allah, apalagi bila kita mengingat bahwa Yehezkiel adalah seorang nabi yang melayani umat Yehuda (Kerajaan Israel Selatan) di pembuangan. Pelayanannya terhadap umat Allah yang tidak ikut dalam pembuangan hanya dilakukan melalui surat-menyurat. Pemahamannya tentang Bait Allah dan peribadatan menunjukkan bahwa Nabi Yehezkiel mengerti (mungkin telah dilatih untuk melakukan) tugas keimaman. Nabi Yehezkiel memiliki istri, tetapi tidak pernah disebut tentang anak-anaknya. Isterinya wafat sebagai tanda bagi umat Allah (Yehezkiel 24:15-27).
Sebutan tahun ketiga puluh (Yehezkiel 1:1) tidak jelas artinya. Ada kemungkinan maksudnya adalah bahwa Nabi Yehezkiel berumur tiga puluh tahun saat mendapat penglihatan tentang Allah. Penglihatan itu sendiri terjadi pada tahun kelima sesudah Raja Yoyakhin dibuang (1:2), yaitu pada tahun 593 BC. Pada waktu menerima penglihatan pertama, Nabi Yehezkiel berada di tepi sungai Kebar yang terletak di wilayah Babilonia. Kemungkinan, Nabi Yehezkiel ikut bersama dengan rombongan rakyat Yehuda yang dibuang bersama-sama dengan Raja Yoyakhin pada tahun 597 BC.
Saat Kerajaan Babel menaklukkan Kerajaan Yehuda pada tahun 597 BC, Nebukadnezar (Raja Babel) mengangkat Zedekia (Paman Yoyakhin) menjadi raja boneka di Yehuda. Semula, Raja Zedekia setia kepada Raja Babel, tetapi kemudian dia memberontak sehingga Nebukadnezar kembali menyerang Kerajaan Yehuda pada tahun 587 BC atau 586 BC. Kali ini, Kerajaan Yehuda benar-benar diruntuhkan dan kota Yerusalem dengan Bait Suci di dalamnya dirobohkan! Sebagian besar dari nubuat Nabi Yehezkiel—yang berisi tentang penghukuman Allah atas dosa bangsa Yehuda melalui tangan Kerajaan Babel (Yehezkiel 1:1-24:27)—disampaikan di antara tahun 593-586 BC. Nubuat Nabi Yehezkiel tentang Bait Suci di Yerusalem pada masa depan disampaikan pada tahun 573 BC (tahun ke-25 sejak pembuangan, lihat 40:1). Nubuat tentang jatuhnya kota Tirus disampaikan pada tahun 571 BC (tahun ke-27 sejak pembuangan, lihat 29:17-18). [P]


Rabu, 01 Juli 2015

Bacaan Alkitab hari ini: Yehezkiel 4-5

Setelah mendapat penglihatan tentang kemuliaan Allah (pasal 1), Nabi Yehezkiel diutus oleh Tuhan ALLAH untuk menyampaikan berita yang amat keras terhadap orang Israel (yang dimaksud dengan Israel di sini bukan hanya bangsa Israel Utara, melainkan bangsa Israel secara keseluruhan, bahkan yang terutama adalah kepada bangsa Israel Selatan atau bangsa Yehuda). Di sini, bangsa Israel disebut sebagai bangsa pemberontak (2:3), keturunan yang keras kepala dan tegar hati (2:4). Yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa tanggung jawab Nabi Yehezkiel adalah menyampaikan firman Tuhan, dan tanggung jawab ini tidak tergantung dari respons yang akan dia terima (2:7; 3:5-9, 17-21, 27).
Tugas Nabi Yehezkiel bukan hanya menyampaikan firman Allah, melainkan juga memperagakan rancangan hukuman Allah kepada bangsa Israel dan secara khusus kepada kota Yerusalem (pasal 4-5). Hukuman Allah ini dijatuhkan karena umat-Nya telah memberontak terhadap ketetapan-ketetapan Allah, bahkan kelakuan mereka telah menjadi lebih jahat daripada kelakuan bangsa-bangsa kafir di sekitar mereka (5:6-8). Oleh karena kejahatan mereka telah melampaui batas, hukuman yang akan dijatuhkan Allah kepada umat-Nya amat mengerikan!
Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, artinya makhluk yang memiliki tanggung jawab terhadap sesama. Mempedulikan sesama merupakan kewajiban, bukan pilihan. Bila kita tidak mempedulikan kepentingan sesama, kita berdosa! Perlu diingat bahwa tanggung jawab kita bukan hanya tanggung jawab untuk berbuat baik (secara jasmani), tetapi juga secara rohani (mengingatkan akan hukuman Allah). [P]
Yehezkiel 3:18
”Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! -- dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.”
COPYRIGHT © 2013 Gereja Kristus Yesus. Developed by Aqua-Genesis Web Development and Design