Allah tidak sembarangan marah. Walaupun teguran-Nya terasa keras dan sangat dramatis, teguran itu terukur, adil, dan lahir dari kasih-Nya. Yehezkiel 4–5 menampilkan berbagai tindakan simbolis yang keras dan mengejutkan, yaitu sang nabi harus berbaring berhari-hari sebagai lambang hukuman menanggung kesalahan umat Israel, menggambarkan pengepungan Yerusalem, makan dalam keterbatasan, hingga memanggang roti dengan cara yang najis. Semua ini bukan sekadar aksi yang aneh, tetapi pesan ilahi yang tegas bahwa penghakiman Allah atas dosa umat-Nya (continue)





