Saat merasa tertekan, Nabi Habakuk mengadukan nasib bangsanya kepada TUHAN, dan dia menanti jawaban. Penantian ini digambarkan seperti petugas keamanan kota yang sedang bertugas di menara pengawas dan siang-malam menunggu TUHAN berbicara kepadanya (2:1). TUHAN meminta Habakuk menuliskan penglihatannya dan mengukirkannya di kepingan tanah liat supaya semua orang dapat membacanya dengan mudah (2:2). Meskipun belum digenapi, penglihatan itu sungguh-sungguh akan segera terjadi dan tidak terelakkan. TUHAN menghendaki agar umat-Nya percaya dan menantikan Dia (2:3). Orang sombong, tidak jujur, dan pengkhianat akan mati binasa, tetapi orang benar akan hidup oleh percayanya kepada TUHAN (2:4-5).
Orang sombong, serakah, dan pengkhianat menerima kata-kata sindiran yang bersifat ancaman (2:6-19). Habakuk mengutuk mereka dengan lima "celaka": Pertama, celakalah mereka karena menindas dan merampas milik orang secara licik dan kasar (2:6-8); Kedua, celakalah mereka karena mengambil keuntungan pribadi di atas penderitaan orang lain (2:9-11); Ketiga, celakalah mereka karena menumpahkan darah orang dan bertindak tidak adil (2:12-14); Keempat, celakalah mereka karena membangkitkan amarah, menjebak dan menjatuhkan orang dalam penghinaan (2:15-18); Kelima, celakalah mereka karena mengajak seluruh bangsa menyembah berhala (2:19). Oleh karena itu, Habakuk mengajak seluruh bangsa menyadari keberadaan TUHAN dan beribadah kepada-Nya, "Berdiam dirilah di hadapan-Nya, hai segenap bumi!" (2:20).
Stres adalah reaksi jiwa yang tertekan oleh keadaan lingkungan, dan hal ini lazim terjadi, termasuk untuk seorang beriman. Dalam konteks kita masing-masing, ada oknum penguasa dan pribadi dalam komunitas yang menindas sesama dengan: perilaku licik dan kasar, menikmati keuntungan di atas penderitaan orang, bersikap tidak adil, melakukan perundungan atau bullying secara verbal, kekerasan fisik, melalui media sosial, maupun dalam kehidupan berkomunitas, bahkan ada yang anti kekristenan. Dalam keadaan seperti ini, apa tanggapan Anda sebagai orang beriman? Pertama, datanglah mengadu kepada Tuhan dan nantikanlah pimpinan Tuhan dalam doa dan perenungan firman. Kedua, nantikanlah Tuhan bertindak. Tuhan bisa memakai pihak yang mungkin tidak bisa kita terima, atau mungkin Tuhan berkenan memakai diri Anda. Ketiga, tetaplah setia beribadah kepada Tuhan. Saat merasa tertekan, kita rentan meninggalkan Tuhan. Teladanilah Yesus Kristus yang—saat menghadapi tekanan berat—datang mendekat kepada Bapa melalui doa (Matius 26:36). Ketika merasa tertekan, apakah Anda tetap beriman kepada TUHAN?