Pada umumnya, menjadi percaya itu tidak terjadi seketika, tetapi melalui suatu proses. Marta, Maria, Lazarus, dan kedua belas murid adalah orang-orang yang paling dekat dengan Yesus Kristus. Akan tetapi, keyakinan mereka terhadap Kristus mengalami pasang surut. Dalam bacaan Alkitab hari ini, Lazarus sakit, dan penyakit Lazarus itu adalah penyakit yang membawa kematian. Bila Tuhan Yesus mengatakan, "Penyakit itu tidak akan membawa kematian," yang Ia maksudkan adalah bahwa hasil akhir dari penyakit itu bukanlah kematian Lazarus, tetapi kebangkitan Lazarus. Lazarus akan mati karena penyakit itu, tetapi Lazarus akan dibangkitkan. Tuhan Yesus tidak mau terburu-buru menjenguk dan menyembuhkan Lazarus karena Ia menghendaki agar Lazarus mati terlebih dahulu, dan kemudian Ia akan membangkitkan Lazarus dari kematian, sehingga peristiwa itu mendatangkan kemuliaan Allah (11:4). Dengan demikian, semua orang di sekitar Lazarus belajar memercayai Kristus melalui peristiwa tersebut.
Dalam hidup kita, kadang-kadang Allah membiarkan kita bergumul menghadapi masalah. Saat kita berdoa, Allah tidak selalu langsung mengabulkan permohonan kita. Kadang-kadang Allah menunda jawaban doa supaya melalui masalah yang kita hadapi, kita memuliakan Allah. Bagaimana kita bisa memuliakan Allah saat menghadapi masalah? Pertama, kita memuliakan Allah bila kita menghadapi masalah dengan sabar dan tidak menyalahkan Allah, apa lagi menuduh Allah sebagai penyebab masalah yang kita hadapi. Pada umumnya, masalah yang kita hadapi disebabkan oleh kesalahan kita sendiri atau oleh lingkungan berdosa yang dengan sengaja mempersulit orang percaya. Kedua, kita memuliakan Allah bila kita berusaha melakukan yang terbaik saat mengalami tekanan. Orang yang tidak memercayai Allah sering kali memakai masalah yang ia hadapi sebagai alasan untuk melakukan kejahatan atau pembalasan kepada orang yang dianggap sebagai penyebab timbulnya masalah. Orang yang memercayai Allah akan tetap bersandar kepada Allah dan percaya bahwa Allah akan menolong dengan cara Allah yang sering kali di luar perkiraan manusia. Ketiga, kita memuliakan Allah bila kita bisa tetap bersyukur, apa pun jawaban Allah atas permohonan kita. Dalam Perjanjian Lama, Ayub adalah tokoh yang tidak mau menyalahkan Allah saat menghadapi penderitaan yang luar biasa, dan kisah hidupnya menginspirasi orang percaya untuk tetap beriman di tengah tekanan. Bagaimana sikap Anda saat Anda mengalami masalah: Apakah Anda bisa tetap memercayai Kristus dengan kesadaran bahwa Allah pasti akan memberi yang terbaik sesuai dengan hikmat-Nya (bandingkan dengan Roma 8:28)?