Hagai 1

Relasi Berkat dan Pekerjaan TUHAN

20 Februari 2026


Pengantar Kitab Hagai
Pemberita Firman Tuhan yang Efektif

Dalam Perjanjian Lama, Kitab Hagai merupakan kitab tersingkat kedua ? berisi 38 ayat ? sesudah kitab Obaja. Sekalipun singkat, kitab ini sangat penting karena: (i) berisi nubuat pertama yang terdengar di Yerusalem dan Yehuda sesudah mereka kembali dari pembuangan di Babel; (ii) dari 38 ayat itu, terdapat 29 kali pernyataan "beginilah Firman Tuhan semesta alam"; dan (iii) menegaskan akan datangnya campur tangan Allah dalam kehidupan umat-Nya dengan berkat yang berlimpah, apalagi ketika mereka rela terlibat dalam pembangunan Bait Allah (2:7-10).

Ketika raja Kores dari kerajaan Persia mengeluarkan perintah yang mengizinkan umat-Nya kembali ke Tanah Perjanjian untuk membangun kota Yerusalem dan Bait Allah, sebagai kegenapan nubuat nabi Yesaya (45:1-3), Yeremia (25:11-12; 29:10-14), dan doa syafaat Daniel (9:1-27), hal itu disambut dengan antusias dan harapan besar oleh sekelompok orang Yehuda yang menjadi rombongan awal yang kembali ke negerinya. Namun, proses pembangunan itu mengalami banyak gangguan, tantangan, dan bahkan hambatan dari bangsa Samaria dan sekitarnya (lihat kitab Ezra dan Nehemia), sehingga menyebabkan kelesuan rohani di antara umat Tuhan yang mengakibatkan pembangunan Bait Allah terhenti dan diabaikan begitu saja, karena umat Tuhan hanya memperhatikan tempat tinggalnya sendiri. Oleh karena itu, Nabi Hagai adalah orang pertama yang diutus Tuhan (1:13) untuk menegur dan memberi dorongan kepada umat Israel agar mereka tidak mengabaikan tugas dan tanggung jawab sebagai umat Allah untuk mewujudkan berdirinya kembali Bait Allah yang merupakan tempat peribadatan umat-Nya.

Firman Tuhan yang disampaikan Nabi Hagai tidak terlalu panjang. Waktu pelayanannya hanya 4 bulan (1:1; 2:11,21). Pesan yang ia sampaikan sangat jelas dan penting untuk ditindaklanjuti dengan penuh ketaatan dan iman, sebab Tuhan tidak akan meninggalkan umat-Nya. Dengan tegas dan lugas, Hagai langsung berbicara kepada Zerubabel bin Sealtiel?bupati Yehuda?dan Imam Besar Yosua bin Yozadak, agar mereka berani mengajak seluruh umat memperbaiki tingkah laku kehidupan mereka dan bergandengan tangan dalam membangun Bait Allah sebagai tempat peribadatan dan pengajaran firman Tuhan yang melengkapi pemahaman akan prinsip hidup yang menjadi ciri umat Allah. Dalam puncak berita di akhir pelayanannya, Nabi Hagai menubuatkan bahwa Zerubabel merupakan cincin meterai (2:24) yang termasuk dalam garis keturunan Mesias yang dijanjikan (Matius 1:12-13; Lukas 3:27). Hal ini menegaskan bahwa TUHAN terus bekerja dan tidak pernah lalai memelihara kehidupan umat-Nya. [Pdt. Johannes Aurelius Wijaya]





Renungan GeMA 20 Februari 2026
Relasi Berkat dan Pekerjaan TUHAN

Banyak orang Kristen yang terpengaruh oleh ajaran teologi sukses yang berkembang sejak paruh kedua abad ke-20 sampai sekarang. Ajaran tersebut menekankan beberapa sifat/atribut Allah?seperti Maha Kuasa, Maha Kaya dan Maha Kasih?serta memakai beberapa ayat Alkitab yang disesuaikan dengan ajaran itu. Mereka mengajarkan bahwa Allah menghendaki anak-anak-Nya meminta, dan permintaan itu pasti akan dikabulkan (Matius 7:7). Permintaan yang dilandasi iman yang kuat pasti akan dikabulkan (Yakobus 5:16b). Bila doa tidak dikabulkan, berarti iman orang yang berdoa itu kurang kuat (Yakobus 1:7-8), atau ia menyimpan banyak dosa yang harus diakui lebih dahulu (Yesaya 59:1-2), atau ia terikat dengan dosa tertentu?seperti dosa kutukan?yang harus dilepaskan melalui doa pelepasan (Lukas 13:16; 2 Timotius 2:26). Ajaran seperti itu sering ditelan mentah-mentah oleh mereka yang sedang terdesak dan tergiur oleh kemakmuran. Apakah bacaan Alkitab hari ini mendukung ajaran teologi sukses? Tentu saja TIDAK!

Melalui Nabi Hagai, TUHAN dengan tegas menegur umat Tuhan yang lalai melaksanakan pekerjaan membangun Bait Allah. Bait Allah atau Rumah TUHAN seharusnya merupakan pusat ibadah dan menjadi kesaksian bagi banyak bangsa di sekitar mereka. Di satu pihak, ada keengganan dengan alasan yang dicari-cari, yaitu bahwa saat itu belum tiba waktunya membangun kembali Rumah TUHAN (1:2). Di pihak lain, ada unsur keegoisan, yaitu bahwa mereka memprioritaskan untuk lebih dahulu membangun rumah kediaman pribadi yang nyaman, padahal Bait Allah masih merupakan reruntuhan (1:4). Kaum Yehuda melupakan begitu saja kegembiraan dan antusiasme mula-mula yang muncul saat mereka menerima penggenapan janji firman TUHAN tentang pemulangan kembali umat TUHAN ke Tanah Perjanjian. Sesudah bertahun-tahun, mereka makin lupa bahwa tujuan kepulangan mereka adalah membangun Bait Allah. Betapa mudahnya kita sebagai umat Allah melupakan pekerjaan Tuhan!

Melalui Nabi Hagai, TUHAN mengungkapkan betapa jauhnya mereka dari berkat-berkat TUHAN (1:6-11) karena mereka mengabaikan kewajiban terhadap Bait Allah yang merupakan bagian dari pekerjaan Tuhan (lihat juga 2:16-20). Syukurlah bahwa para pemimpin Yehuda?baik pemimpin pemerintahan (Zerubabel bin Sealtiel) maupun pemimpin rohani (Yosua bin Yozadak)?bersikap cepat tanggap terhadap dorongan firman Tuhan yang mengajak seluruh rakyat bekerja sama melanjutkan pembangunan Rumah Allah (1:12-14). Apakah Anda menyadari bahwa berkat TUHAN berkaitan dengan ketaatan Anda dalam menjalankan pekerjaan Allah? [Pdt. Johannes Aurelius Wijaya]

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design