Pasal 20 yang terdiri dari delapan ayat ini masih menceritakan tentang kemenangan Daud. Pasal 19 menceritakan tentang perang dengan bani Amon yang tidak tuntas. Tentara Amon yang telah kalah lari ke kota mereka. Yoab tidak mengejar, tetapi kembali ke Yerusalem. Mungkin, saat itu sudah mulai memasuki musim dingin, sehingga situasi tidak kondusif untuk menyerang kota yang harus dikepung dalam waktu lama. Di pasal 20, Yoab pergi menuntaskan misi yang belum selesai itu. Dia memimpin pasukannya menyerang dan menghancurkan kota utama mereka, yaitu kota Raba. Perang ini mengakhiri perlawanan bani Amon.
Perang dengan bani Amon (20:1-3) dicatat juga dalam 2 Samuel 11. Rupanya, perang Raba berlangsung cukup lama, Yoab tidak bisa langsung menyerbu ke dalam kota dan harus melakukan pengepungan. Saat itulah, Daud melakukan dosa perzinaan dengan Batsyeba. Dosa itu terjadi karena Daud menyuruh Yoab maju berperang, sedangkan dia sendiri tinggal di Yerusalem, padahal raja-raja biasanya maju berperang (1 Tawarikh 20:1). Adanya kontras antara keputusan Daud untuk tetap tinggal di Yerusalem dengan kebiasaan raja-raja pada masa itu seakan-akan mengatakan. "Seandainya Daud pergi berperang, mungkin peristiwa kelam berupa perzinaan itu tidak terjadi." Ingatlah bahwa godaan ada di mana-mana. Iblis selalu mengintai untuk menjatuhkan kita ke dalam dosa (bandingkan dengan 1 Petrus 5:8).
Penulis kitab 1 Tawarikh pasti mempunyai pertimbangan sendiri, mengapa dia tidak mau menuliskan catatan sejarah kelam tentang perzinaan Daud itu. Yang pasti, pengabaian itu bukan untuk menutupi kesalahan Daud. Lagi pula, masalah perzinaan Daud itu memang tidak tepat bila dicatat di sini karena pasal 18-20 dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa janji Tuhan tentang "menaklukkan musuh-musuh Daud" sedang digenapi. Jika peristiwa perzinaan itu disisipkan di sini, kesinambungan topik penaklukan musuh-musuh Daud akan terganggu. Selain itu, kisah perzinaan itu sudah dituliskan secara sangat lengkap dalam 2 Samuel 11. Bagi penulis, yang penting disampaikan adalah kesetiaan Tuhan pada janji-Nya. Janji TUHAN pasti akan digenapi pada waktu yang tepat.
Allah menjanjikan hidup kekal kepada orang percaya, (Yohanes 6:47; 1 Yohanes 2:25). Saat seseorang memercayai Yesus Kristus, ia mendapat hidup kekal dan dibebaskan dari kuasa dosa (Yohanes 5:24). Akan tetapi, janji itu masih menanti penggenapan penuh di masa depan berupa penggantian tubuh yang cenderung berbuat dosa dengan tubuh yang baru dan pembebasan dari lingkungan yang terus menarik kita untuk berbuat dosa. Apakah Anda telah memiliki hidup kekal itu?