Bacaan Alkitab hari ini membicarakan tentang suku Benyamin. Benyamin adalah suku yang istimewa karena tiga hal: Pertama, raja pertama Israel berasal dari suku Benyamin. Walaupun keturunan Yehuda yang dipilih Allah untuk menjadi pemimpin Israel, Allah mengurapi Saul menjadi raja pertama. Orang Israel akan tetap mengenang Saul sebagai raja Israel. Kedua, suku Benyamin adalah suku yang tetap setia kepada Daud saat kerajaan Israel pecah. Itulah sebabnya, setelah Israel kembali dari pembuangan, suku Benyamin menjadi suku terbesar kedua setelah Yehuda. Ketiga, Yerusalem berada di wilayah Benyamin.
Penulis memisahkan keturunan Saul yang tinggal di Gibeon dengan orang Benyamin yang tinggal di Yerusalem. Keduanya terpisah saat Israel pecah. Mereka berpisah bukan karena wilayah yang terpisah, tetapi karena pilihan mereka sendiri. Suku Benyamin di Yerusalem memilih untuk masuk ke kerajaan Yehuda, sedangkan suku Benyamin di Gibeon memilih kerajaan Israel. Gibeon dan Yerusalem sama-sama pusat ibadah orang Israel. Sebelum Bait Suci dibangun, Kemah Suci pernah berada di Gibeon dan menjadi tempat persembahan kurban utama karena mezbah kurban ada di sana. Akan tetapi, Yerusalem juga merupakan tempat ibadah yang penting karena tabut Allah berada di sana. Mengapa Allah membiarkan adanya dua pusat ibadah? Gibeon adalah pilihan umat Israel untuk menjadi tempat berdirinya Kemah Suci. Allah mengizinkan pilihan itu, tetapi tempat ini bukan pilihan Allah. Kota yang dipilih Allah sebagai tempat "nama-Nya tinggal" adalah Yerusalem (1 Raja-raja 11:36). Saul juga bukan raja pilihan Tuhan sejak semula. Saul dipilih karena Israel meminta raja sebelum waktu yang direncanakan Tuhan. Raja yang Tuhan pilih adalah Daud. Saul dan Gibeon tidak bertahan lama karena keduanya bukan pilihan Allah, tetapi inisiatif manusia. Keduanya hancur bersama kerajaan Israel. Daud dan Yerusalem bertahan lama karena keduanya pilihan Allah. Meskipun sempat hancur karena dosa, keduanya dipulihkan kembali karena janji Allah kepada Daud.
Inisiatif dan usaha manusia di luar kehendak Allah tidak akan bertahan lama. Kita diberi kehendak bebas dan akal budi yang sering kita pakai untuk meraih kesuksesan. Akan tetapi, kita harus hati-hati dalam memakai akal budi. Jangan sampai kita merencanakan hidup kita semau kita tanpa memedulikan kehendak Tuhan. Kehancuran Saul adalah contoh nyata dari orang yang melakukan kehendak sendiri tanpa peduli terhadap kehendak Allah. Hal ini berbeda dengan Daud, orang yang selalu mencari kehendak Allah, sehingga dia menjadi orang yang dikasihi Allah. Sikap siapa yang Anda teladani: Saul atau Daud?