Pernahkah Anda memperhatikan penampilan seseorang yang benar-benar bahagia? Wajah orang itu pasti berseri-seri, langkahnya terasa ringan, dan kata-kata syukur keluar dari perkataannya. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita kehilangan rasa syukur. Kesibukan, tekanan hidup, dan tuntutan yang tiada henti sering kali membuat kita lupa bahwa kita setiap hari menerima anugerah Tuhan. Mazmur ini mengingatkan kita untuk kembali kepada dasar kehidupan rohani, yaitu bersyukur dan bersukacita di hadapan TUHAN yang merupakan Pencipta dan Gembala kita.
Frasa Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! berarti meneriakkan pujian dengan penuh semangat seperti sorak-sorai tentara yang menang perang. Jadi, ibadah kepada TUHAN seharusnya lahir dari hati yang penuh kemenangan dan sukacita karena karya-Nya. Pemazmur berkata, Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! (100:2). Kata beribadahlah berasal dari kata Ibrani abad, yang juga berarti melayani. Jadi, menyembah TUHAN harus dilakukan dengan mempersembahkan seluruh hidup kita untuk melayani TUHAN. Ibadah yang sejati dimulai dengan pengenalan yang benar terhadap TUHAN sebagai Pencipta dan Pemilik diri kita. Kita adalah milik TUHAN yang memelihara hidup kita, Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan milik Dialah kita. (100:3). Ibadah kepada TUHAN selalu berakar pada hati yang bersyukur, Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian. (100:4). Kita beribadah bukan karena keadaan selalu baik, tetapi karena TUHAN itu selalu baik, Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kebenaran-Nya tetap turun-temurun. (100:5). Dasar iman umat Allah adalah bahwa karakter TUHAN itu tidak berubah.
Bacaan Alkitab hari ini mengajar kita bahwa penyembahan sejati bukan sekadar tindakan ritual, tetapi sikap hati yang menyadari kebaikan TUHAN. Di tengah kesibukan, berhentilah sejenak dan sadarilah bahwa nafas hidup Anda adalah bukti kasih TUHAN. Jadikanlah ibadah bukan sekadar kewajiban mingguan, melainkan kesempatan berjumpa dengan Sang Raja yang layak disembah, sehingga kesempatan beribadah itu layak disyukuri. Kita dipanggil untuk melayani TUHAN dengan sukacita, membawa semangat syukur ke dalam pekerjaan, pelayanan, dan kehidupan keluarga. Adanya rasa syukur akan mengubah cara kita memandang hidup, dari fokus pada kekurangan menjadi fokus pada kasih Tuhan yang tidak berkesudahan. Apakah Anda sudah datang kepada Tuhan dengan hati bersyukur atau hanya sekadar rutinitas?