Saat merasa tertekan, Nabi Habakuk mengadukan nasib bangsanya kepada TUHAN, dan dia menanti jawaban. Penantian ini digambarkan seperti petugas keamanan kota yang sedang bertugas di menara pengawas dan siang-malam menunggu TUHAN berbicara kepadanya (2:1). TUHAN meminta Habakuk menuliskan penglihatannya dan mengukirkannya di kepingan tanah liat supaya semua orang dapat membacanya dengan mudah (2:2). Meskipun belum digenapi, penglihatan itu sungguh-sungguh akan segera terjadi dan tidak terelakkan. TUHAN menghendaki agar umat-Nya percaya dan menantikan Dia (2 (continue)





