Meskipun Rumah TUHAN menjadi simbol kehadiran TUHAN di tengah umat-Nya, pemazmur menyadari bahwa Allah bersemayam di surga. Tidak ada tempat di dunia ini yang dapat "menampung" Allah. Ia mengatasi langit dan bumi. Di tengah masalah yang sedang dihadapi oleh pemazmur, ia melayangkan matanya kepada Allah (123:1). Ingatlah bahwa kata "melayangkan" berarti mengangkat mata dan menujukan fokus kepada Allah. Pemazmur tidak menujukan fokusnya kepada masalah dan keadaan yang ia hadapi, tetapi ia menetapkan hati untuk memandang kepada Allah (continue)





