Kata Sambutan HUT ke-75 GKY

Soli Deo Gloria

by Pdt. Yohanes Adrie Hartopo, Ph.D.
3 Juni 2020
Pada tanggal 3 Juni 1945, pelayanan Kuo-Yu Pu (seksi bahasa Kuo-Yu) dari Chung Hua Chi Tuh Chiao Hui (CHCTCH) Ketapang diresmikan menjadi gereja baru dengan nama Chung Hua Chi Tuh Chiao Hui (Kuo Yu Thang) yang otonom, meskipun gereja baru tersebut masih meminjam tempat di CHCTCH Ketapang. Tanggal 3 Juni 1945 ditetapkan sebagai tanggal resmi berdirinya Kuo Yu Thang. Di kemudian hari, Kuo Yu Thang memakai nama Gereja Kristus Jemaat Mangga Besar (GKJMB), lalu selanjutnya menjadi sinode sendiri dan berganti nama menjadi Gereja Kristus Yesus (GKY). Kita patut bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan selama 75 tahun atas GKY, sehingga GKY (Kuo Yu Thang) bisa terus berkembang sampai saat ini.

Perayaan HUT ke-75 pada tahun ini memang sudah direncanakan. Akan tetapi, situasi krisis yang terjadi di seluruh dunia berkaitan dengan Pandemi Covid-19 mengubah semua perencanaan manusia. GKY juga tidak terluput dari situasi krisis yang melanda seluruh dunia—termasuk Indonesia—sejak Maret 2020. Bukan hanya banyak perencanaan yang tidak bisa dijalankan atau diwujudnyatakan, tetapi gereja juga harus beradaptasi dengan situasi dan kondisi darurat yang tidak bisa dihindarkan. Di tengah kondisi yang memprihatinkan akibat penyebaran Covid-19, GKY terpanggil untuk turut mendukung penerapan social & physical distancing yang dihimbau oleh Pemerintah Republik Indonesia kepada seluruh warga negara dalam upaya untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 ini. Oleh sebab itu, Sinode GKY mengambil kebijakan bahwa mulai tanggal 22 Maret 2020, kebaktian umum hari Minggu yang biasanya dilakukan dalam bentuk konvensional (yakni ibadah bersama di gedung gereja) untuk sementara dilakukan dalam bentuk ibadah di tempat tinggal masing-masing (melalui live streaming atau online). Kebijakan ini diberlakukan sampai keadaan kembali memungkinkan untuk melakukan ibadah konvensional. Kebijakan ini diambil sebagai salah satu bentuk kepedulian dan tanggung-jawab sosial gereja sebagai kumpulan orang percaya, bukan karena ketakutan tertular virus atau karena kelemahan iman. Tidak menghiraukan himbauan social & physical distancing akan memberi pesan negatif kepada dunia bahwa orang Kristen tidak memiliki kepekaan sosial.

Tidak bisa disangkal bahwa ibadah non-konvensional bukanlah ibadah yang ideal karena ada elemen-elemen penting dan umum dalam suatu ibadah konvensional yang terasa hilang. Meskipun demikian, ibadah sebagai respons terhadap anugerah dan kehadiran Allah haruslah tetap eksis di tengah situasi darurat sekalipun. ingatlah bahwa esensi gereja adalah orang, bukan bangunan. Di mana saja umat Allah berkumpul, di sana ada gereja. Oleh sebab itu, ibadah tetap bisa dilakukan tanpa dibatasi oleh bangunan dan lokasi. Penyediaan sarana ibadah non-konvensional adalah salah satu bentuk upaya gereja supaya umat Tuhan tetap bisa beribadah di mana pun berada di hari minggu. Diharapkan, ibadah non-konvensional tidak menjadi pola yang terus-menerus berlanjut. Ibadah bersama di gedung gereja akan kembali dijalankan jika keadaan sudah memungkinkan. Setidaknya, situasi darurat saat ini membuat orang percaya bisa merasakan betapa berharganya kesempatan beribadah bersama yang selama ini kita jalani.

Di tengah situasi yang tidak kondusif, tetap ada hal positif yang bisa kita temukan. Memang, persekutuan tatap muka di gereja dengan orang percaya lainnya menjadi semakin berkurang karena himbauan social distancing. Akan tetapi, situasi ini seharusnya membuat persekutuan di antara anggota keluarga menjadi semakin erat karena kita bisa memiliki waktu bersama dengan keluarga yang lebih banyak. Waktu kebersamaan yang berharga ini tentunya memperkokoh relasi dan iman dalam kehidupan keluarga, khususnya karena adanya waktu bersama untuk mengikuti ibadah non-konvensional sebagai satu keluarga. Selain itu, himbauan social distancing sebenarnya juga memberikan waktu dan kesempatan yang berharga untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan, bersekutu dengan Tuhan, serta berdoa dan membaca firman-Nya. Jika hal ini bisa dijalankan dengan baik, maka akan bisa membentuk suatu disiplin rohani yang tentu akan sangat berdampak positif terhadap pertumbuhan iman kita. Dalam hal ini kehadiran bacaan Alkitab GEMA diharapkan bisa membantu pelaksanaan disiplin rohani tersebut.

Ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan. Wabah Covid-19 mengingatkan semua orang mengenai pentingnya menjaga kesehatan tubuh (fisik). Nutrisi yang baik sangat penting supaya tubuh tetap sehat. Kesehatan yang optimal membutuhkan nutrisi yang optimal. Hal yang sama terjadi dalam kaitan dengan spiritualitas kita. Tanpa nutrisi makanan rohani yang cukup dan teratur, kerohanian kita tidak akan menjadi sehat. Kita perlu terus diingatkan bahwa membaca Alkitab—yang adalah makanan rohani—penting untuk kesehatan dan pertumbuhan rohani orang percaya. Kita patut menaikkan syukur kepada Tuhan yang terus memakai program Gerakan Membaca Alkitab (GEMA) di lingkungan GKY. Kiranya bacaan Alkitab GEMA menjadikan jemaat-jemaat GKY sehat secara rohani.
Selamat Hari Ulang Tahun ke-75 untuk Gereja Kristus Yesus pada 3 Juni 2020 ini. Kiranya GKY terus diberkati untuk membawa kemuliaan bagi Allah! Kiranya GKY tetap bersinar dan menjadi kesaksian yang baik di tengah krisis global ini!

Pdt. Yohanes Adrie Hartopo, Ph.D.
Ketua Umum Sinode GKY
Pokok Doa
1. Kementerian Pertanian dan Para Petani.
2. Ikatan Perawat Indonesia.
3. Karyawan Lapangan GKY.
Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16
www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design