John Calvin pernah berkata, "Hati manusia adalah pabrik berhala yang abadi." Artinya, tanpa sadar, kita terus "memproduksi" berhala pengganti Allah, seperti kesuksesan, kenyamanan, relasi, pelayanan, dan hal-hal "baik" lainnya, lalu menaruhnya di posisi yang seharusnya hanya untuk Allah. Semua itu kita kasihi, kita percayai, dan kita taati lebih daripada TUHAN. Dengan kacamata ini, persoalan dalam Yehezkiel 14 menjadi sangat personal, yaitu bahwa masalahnya bukan sekadar berhala di luar, tetapi takhta hati yang diam-diam sudah diduduki oleh yang (continue)





