Sukacita atas dipindahkannya tabut ke Yerusalem dinyatakan dalam pujian syukur. Daud memerintahkan para pemuji menyanyikan nyanyian syukur yang merupakan medley dari kumpulan mazmur yang ditulisnya. Ayat 8-22 diambil dari Mazmur 105:1-15, ayat 23-33 diambil dari Mazmur 96:1-13, ayat 34 adalah ajakan bersyukur yang populer dari Daud (Mazmur 107:1; 118:1; 136:1), dan ayat 35-36 diambil dari Mazmur 106:47, 48. Secara keseluruhan, nyanyian tersebut menekankan perbuatan TUHAN, firman-Nya, keagungan-Nya, dan kemuliaan-Nya.
Setelah Tabut Perjanjian diletakkan di kemah khusus di Yerusalem, kemah itu menjadi tempat ibadah kedua selain Kemah Suci di Gibeon. Tabut Perjanjian seharusnya ada bersama dengan mezbah untuk mempersembahkan kurban di Kemah Suci. Tabut Perjanjian melambangkan anugerah Tuhan, sedangkan mezbah mencerminkan respons umat atas anugerah itu. Tabut Perjanjian terpisah dari mezbah karena dirampas oleh orang Filistin pada zaman Eli, sampai akhirnya berlabuh di Kiryat-Yearim. Daud menghendaki agar Tabut Perjanjian itu berada di Yerusalem yang merupakan pusat kerajaan Israel. Akan tetapi, tidak jelas mengapa mezbah tidak ikut dipindahkan. Mungkin, Kemah Suci Musa sudah terlalu tua dan akan hancur jika dipindahkan, atau Daud sudah memiliki rencana membangun Bait Suci di Yerusalem. Pada zaman Daud, ada dua imam yang bertugas, yaitu Zadok bin Ahitub dan Ahimelekh bin Abyatar (18:16). Daud menugaskan imam Zadok untuk melayani di Kemah Suci, tempat mezbah persembahan kurban. Karena tidak ada catatan tentang imam yang bertugas di kemah tempat menyimpan tabut, mungkin imam Ahimelekh bertugas di sana.
Hati Daud yang penuh dengan pujian syukur kepada Allah terlihat dari banyaknya mazmur yang ia tulis. Banyaknya mazmur itu membuat dia dijuluki "pemazmur yang disenangi di Israel" (2 Samuel 23:1). Banyak Mazmur yang ia buat untuk pujian dalam ibadah. Puji-pujian tidak bisa dilepaskan dari ibadah, apalagi dalam ibadah di gereja. Daud menggubah pujian syukur untuk dinyanyikan setiap hari. Pujian syukur bagi TUHAN seharusnya bukan hanya dinyanyikan pada saat pemindahan Tabut Perjanjian saja, melainkan harus dinyanyikan setiap hari. Karena begitu besar anugerah Tuhan kepada umat-Nya, sudah tidak terhitung jumlah lagu pujian yang diciptakan. Dari waktu ke waktu, selalu ada nyanyian baru yang diciptakan. Akan tetapi, berapa banyak anggota jemaat Tuhan yang menyanyikannya di luar Kebaktian Minggu di gereja? Bukankah kita telah menerima kasih karunia Allah yang sangat besar? Apakah kita sudah menyatakan syukur kita kepada Tuhan dalam puji-pujian setiap hari?