Hosea: Kasih yang Tidak Pernah Menyerah
Kitab Hosea membuka kumpulan "Dua Belas Nabi Kecil" dengan kisah yang sangat personal, sekaligus dramatis. Hosea, seorang nabi dari Israel Utara, dipanggil Allah untuk menikahi seorang perempuan sundal yang tidak setia, sebagai simbol dramatis relasi Allah dengan umat Israel yang tidak setia. Melalui kehidupan rumah tangga Hosea yang penuh luka, Allah menyingkapkan kenyataan pahit, yaitu bahwa Israel telah bersundal secara rohani dengan meninggalkan perjanjian dan berpaling kepada dewa-dewi Kanaan, terutama Baal. Namun, di balik murka yang wajar terhadap ketidaksetiaan, terselubung kasih yang tak tergoyahkan, yaitu kasih Allah yang tetap mengejar dan rindu memulihkan umat-Nya.
Nama "Hosea" berarti "keselamatan" atau "Yahweh menyelamatkan". Akar kata nama ini sama dengan "Yosua" dan "Yesus". Hal ini memberi nuansa teologis bahwa pesan Nabi Hosea terkait dengan tindakan penyelamatan Allah yang penuh kasih, meskipun umat-Nya tidak setia. Relasi antara Hosea dan Gomer secara tajam melukiskan kesetiaan (hesed) Allah yang kontras dengan ketidaksetiaan Israel yang melakukan perzinahan rohani melalui penyembahan berhala dan kompromi politis dengan bangsa-bangsa lain. Pelayanan Hosea berlangsung sekitar 750–715 SM, saat Kerajaan Israel Utara berada di ambang kehancuran akibat dosa dan kekacauan politik. Di bawah bayangan ancaman Asyur, umat Israel justru larut dalam penyembahan berhala, ketidakadilan, dan kemerosotan moral. Dengan berani, Nabi Hosea bernubuat bahwa semua ini akan berujung pada kehancuran. Sekalipun demikian, seruannya bukan sekadar peringatan, melainkan undangan untuk kembali kepada Allah. Ia mengungkapkan kebenaran penting bahwa Allah menghendaki kasih setia (hesed) dan pengenalan sejati akan Dia (da’at Elohim), bukan sekadar ritual ibadah yang kosong.
Kitab Hosea menampilkan paradoks ilahi, yaitu murka Allah terhadap dosa yang berdampingan dengan kasih Allah yang tidak pernah gagal. Relasi Allah dengan Israel bukan sekadar relasi hukum, melainkan relasi kasih yang penuh keintiman, seperti seorang suami yang tidak menyerah mengejar istrinya. Di sinilah pesan abadi Nabi Hosea bergema: meski manusia kerap jatuh dalam ketidaksetiaan, Allah tetap setia, penuh kasih, dan berjanji untuk memulihkan mereka yang kembali kepada-Nya (lihat 2 Timotius 2:13) Pesan Nabi Hosea menyiapkan hati pembaca untuk memahami kedalaman kasih karunia yang pada akhirnya digenapi di dalam Kristus Yesus, Sang Mempelai sejati bagi umat-Nya. Relasi Hosea-Gomer menubuatkan relasi Yesus Kristus dan umat-Nya: Allah yang mengejar mempelai yang tidak layak, memulihkan, menguduskan, dan mempersembahkan umat-Nya bagi diri-Nya sendiri dalam kesetiaan. [GI Jokhana]
Kasih yang Menembus Ketidaklayakan
Senin, 1 Desember 2025
Bacaan Alkitab hari ini:
Hosea 1-2
Hosea 1 membuka tirai nubuat yang paling mengguncang hati: Allah memerintahkan nabi-Nya untuk menikahi Gomer, seorang pelacur, sebagai lambang konkret kasih Allah kepada umat Israel yang berzina secara rohani. Di mata manusia, perintah ini aneh, bahkan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin, Allah yang kudus "meminta" nabi-Nya melakukan tindakan yang bisa mendatangkan aib? Namun, justru di sinilah terletak kedalaman kasih Allah yang melampaui akal. Kehidupan Nabi Hosea menjadi "teater ilahi" di hadapan umat, agar pesan Allah tidak hanya terdengar, tetapi juga terlihat.
Perintah Allah kepada Hosea mencerminkan kasih perjanjian (hesed) Allah yang tetap mengasihi dan mencari umat-Nya, meskipun mereka tidak setia dan terus lari dari-Nya. Israel telah "melacur" dengan menyembah Baal, bergantung pada kekuatan bangsa asing, dan meninggalkan Allah, Sang Sumber Hidup. Dosa Israel bukan hanya pelanggaran etis, tetapi persundalan perjanjian, yaitu pengkhianatan terhadap ikatan kasih. Hati Allah hancur karena ketidaksetiaan Israel, tetapi kasih-Nya tidak pernah berhenti mengejar dan memanggil mereka kembali. Nama Gomer—artinya "selesai" atau "penyempurnaan"—secara ironi menunjukkan bahwa Israel telah sempurna dalam kebobrokan dan ketidaksetiaan. Seperti Hosea tidak memilih Gomer karena kesuciannya, Allah tidak memilih umat Israel karena kelayakannya, Pilihan itu berdasarkan kasih karunia semata, bukan karena kebaikan objek kasih.
Nama anak-anak Hosea menunjukkan ketidaklayakan umat Israel: Yizre’el berarti "Allah menabur" atau "Allah menghukum". Lo-Ruhama berarti "tidak dikasihani", sebagai petunjuk bahwa kasih sayang Allah ditarik karena dosa yang terus-menerus. Lo-Ami berarti "bukan umat-Ku", sebagai gambaran paling kelam bahwa Allah menyatakan keterputusan relasi perjanjian karena pengkhianatan umat. Sekalipun demikian, dalam nama-nama yang mengandung penghakiman itu tersimpan benih pengharapan (1:10-12). Di balik ketidaklayakan, Allah menyingkapkan kasih-Nya yang menembus batas murka dan penghukuman. Yizre’el, tempat hukuman, akan menjadi tempat Allah menabur pemulihan. Lo-Ruhama menjadi Ruhama, yakni dikasihi dan diampuni. Lo-Ami akan dipulihkan menjadi umat Allah yang sejati.
Allah menghukum, tetapi Ia tidak berhenti mengasihi. Di tengah penghakiman, Allah tetap setia pada janji-Nya. Kesetiaan-Nya tidak bergantung pada kelayakan kita, melainkan pada kasih-Nya yang kekal. Renungkanlah: Apakah Anda seperti umat Israel yang tidak setia, mengejar hal-hal duniawi, dan melupakan Allah? Dalam hal apa Anda dipanggil untuk kembali setia? Maukah Anda merespons kasih yang menembus ketidaklayakan itu dengan hidup setia kepada-Nya?