Kata "kurban" (offering) berbeda dengan "korban" (sacrifice, victim). Kata "korban" menunjuk pada pihak yang menderita atau dirugikan akibat suatu peristiwa atau perbuatan orang lain, sedangkan kata "kurban" menunjuk pada sesuatu yang dipersembahkan kepada Allah. Yesus Kristus yang mati di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia adalah "Kurban", bukan "korban". Dalam kitab Ibrani, Yesus Kristus adalah kurban, bukan korban. Kata Yunani προσφέρω (prosphero) yang semula diterjemahkan oleh LAI sebagai "mengorbankan" diri-Nya (9:28, TB1) direvisi menjadi "dipersembahkan" dalam TB2. Terjemahan ini serupa dengan terjemahan "mempersembahkan" diri-Nya dalam 9:14 (TB1 sama dengan TB2). Revisi terjemahan ini sesuai dengan konsep "kurban", yaitu ada pihak lain—Allah Bapa—yang mempersembahkan Anak-Nya sendiri—Yesus Kristus—untuk memikul dosa manusia, sekali untuk selamanya bagi kepentingan umat manusia.
Ada tiga perbedaan antara kurban Perjanjian Lama dengan kurban Yesus Kristus: Pertama, kurban harus dipersembahkan umat kepada Allah melalui perantara. Dalam Perjanjian Lama, setahun sekali, imam besar keturunan Harun menjadi perantara yang membawa darah kambing jantan dan darah anak lembu untuk menyucikan diri sendiri beserta umat yang berdosa kepada Tuhan (9:7), sedangkan Kristus membawa darah-Nya sendiri (9:11-14). Kurban Kristus itu sempurna, sehingga Ia cukup satu kali saja mengurbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang (9:24). Kedua, tujuan umat mempersembahkan kurban adalah untuk menyucikan hidupnya secara lahiriah (9:13). Misalnya, orang yang sakit kusta harus diperiksa oleh imam. Ia akan dikurung selama 7 hari, lalu diperiksa kembali. Sesudah dinyatakan sembuh, ia harus mencuci pakaiannya, lalu mempersembahkan kurban sebagai ungkapan syukur pada hari ke-8 (Imamat 13:1-6; 14:10). Kurban Kristus menyucikan hati nurani dari perbuatan yang sia-sia (Ibrani 9:14); Ketiga, tujuan persembahan kurban Perjanjian Lama adalah untuk pengudusan umat Israel, sedangkan kurban Kristus bersifat universal, tidak dibatasi oleh satu bangsa saja, tetapi mencakup semua orang yang terpanggil untuk menerima warisan kekal (9:15).
Puncak pengurbanan Kristus adalah ketika Ia memasuki hadirat Allah agar umat diperkenan untuk menghampiri Allah dalam ibadah. Kerinduan Allah untuk bersekutu dengan umat-Nya itu terwujud melalui kurban Kristus. Sebagai umat kesayangan Allah, apakah Anda sudah mempersembahkan hidup Anda sebagai persembahan yang berkenan kepada Allah dan menjadi persembahan yang harum bagi kemuliaan-Nya? Marilah kita menyatakan bakti kita kepada Allah melalui hubungan yang intim dengan Dia!