Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat orang yang pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi sulit untuk hidup sesuai dengan kata-katanya. Di media sosial, banyak orang menampilkan citra diri yang sempurna, tetapi kenyataan di balik layar sering kali berbeda. Dunia modern menuntut penampilan, bukan integritas. Akan tetapi, bacaan Alkitab hari ini mengingatkan kita bahwa bagi orang yang memercayai Tuhan, yang paling penting bukan apa yang tampak di luar, tetapi kesetiaan dan ketulusan hati di hadapan Allah yang melihat segalanya.
Mazmur 101 dibuka dengan pernyataan yang indah: "Aku hendak menyanyikan kasih dan keadilan, aku hendak bermazmur bagi-Mu, ya TUHAN." (101:1). Ada dua kata penting dalam ayat ini, yaitu kasih (hesed) dan keadilan (mishpat). Hesed menunjuk pada kasih setia Allah yang tidak berubah, sedangkan mishpat menunjuk pada keadilan yang benar. Daud ingin menjalani hidup dengan meneladani karakter Allah, yaitu memancarkan kasih yang penuh rahmat dan bersikap tegas melakukan kebenaran. Kemudian, ia berkata, "Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela. Kapankah Engkau akan datang kepadaku? Aku hendak hidup dengan ketulusan hati di dalam rumahku." (101:2). Kata Ibrani untuk "tidak bercela" adalah tamim, artinya utuh, murni, atau tanpa cacat moral. Daud menyadari bahwa integritas sejati dimulai dari rumah sendiri, bukan di depan publik. Ia ingin menjaga keselarasan hati, perkataan, dan tindakan. Selanjutnya, ia menolak segala bentuk kejahatan, tipu daya, dan kesombongan (101:3-5). Ia tidak ingin melihat "perbuatan lalim", artinya ia tidak mau memberi ruang bagi hal-hal yang mengotori hati dan pikirannya. Daud hanya mau bergaul dengan orang yang setia dan jujur (101:6-7), karena ia tahu bahwa karakter seseorang bisa memengaruhi jalan hidupnya. Mazmur ini ditutup dengan tekad yang kuat untuk menegakkan keadilan, melenyapkan semua orang yang melakukan kejahatan (101:8).
Bacaan Alkitab hari ini mengajarkan bahwa hidup berintegritas adalah bentuk penyembahan yang sejati. Iman bukan hanya tentang apa yang kita katakan di gereja, tetapi bagaimana kita hidup di rumah, di tempat kerja, dan di tengah masyarakat. Dalam dunia yang semakin permisif, kita dipanggil untuk menjaga hati agar tetap murni dan selalu menjauhkan diri dari hal-hal yang menyesatkan. Hidup berintegritas berarti hidup dengan jujur, menepati janji, dan melakukan yang benar walaupun hal itu sulit. Dengan meneladani kasih dan keadilan Allah dalam kehidupan sehari-hari, kita menjadi saksi bahwa TUHAN masih terus bekerja. Apakah Anda sudah hidup berintegritas di hadapan TUHAN?