Setelah upaya pertama gagal, Daud menyiapkan kembali pemindahan tabut TUHAN ke Yerusalem. Kegagalan pertama membuat persiapan yang dilakukan menjadi jauh lebih matang dan rapi, termasuk mempersiapkan kemah tempat tabut itu akan ditempatkan. Para imam dan orang Lewi mendapat berbagai macam tugas: Ada yang bertugas mengangkut tabut dengan pengusung yang diletakkan di atas bahu mereka. Ada yang bertugas menjaga pintu gerbang. Selama perjalanan, mungkin mereka bertugas menjaga tabut dengan mencegah orang mendekat dan menyentuh tabut itu. Ada yang bertugas memainkan musik dan yang menjadi penyanyi. Tugas-tugas itu berlaku untuk seterusnya, setelah tabut diletakkan pada tempatnya di dalam kemah yang telah disiapkan.
Selama perjalanan memindahkan tabut TUHAN, Daud dan seluruh rakyat yang mengiringi perjalanan menari dan bersorak sebagai ungkapan sukacita yang besar, apa lagi setelah tabut berhasil dibawa ke Yerusalem. Lembu dan domba jantan dipersembahkan kepada TUHAN sebagai ucapan syukur karena TUHAN telah memampukan para pengangkut tabut melaksanakan tugas dengan baik. Tugas mengangkut tabut tidak mudah karena risiko kesalahan adalah kematian. Sekalipun demikian, mereka yang berhasil mengangkutnya mendapat sukacita dan kebanggaan tersendiri karena mendapat perkenan TUHAN.
Ada dua catatan yang maknanya penting: Pertama, Daud memakai jubah dari kain linen halus dan baju efod yang merupakan pakaian khas imam (15:27) sebagai nubuat tentang Mesias. Daud adalah bayang-bayang Kristus sebagai Raja serta Imam Besar. Kedua, Mikhal, anak Saul yang menjadi istri Daud, tidak ikut bersukacita saat tabut TUHAN dipindahkan ke Yerusalem, ibukota kerajaan Israel. Padahal, keberhasilan memindahkan tabut Tuhan itu seharusnya disambut dengan penuh sukacita seperti yang diungkapkan oleh Daud dan segenap rakyat sebagai pengakuan bahwa Tuhan adalah kepala pemerintahan yang sesungguhnya. Akan tetapi, Mikhal tidak turut bergembira karena perhatiannya ditujukan pada perilaku Daud yang menari-nari. Bagi Mikhal, penguasa tertinggi di Israel adalah raja (manusia), bukan Allah. Ia tidak setuju bila Raja Daud menari-nari untuk menghormati Allah. Oleh karena itu, Mikhal menghina Daud di dalam hatinya (15:29). Sikap Mikhal itu membuat ia menerima hukuman Allah, Mikhal binti Saul tidak mendapat anak sampai hari matinya. (2 Samuel 6:23). Menjadikan Tuhan sebagai Raja atas hidup kita adalah sumber berkat dan damai sejahtera. Sikap ini menuntun kita untuk selalu mengikuti jalan-Nya. Apakah Anda sudah memperoleh berkat dan damai sejahtera yang berasal dari Tuhan?