Setelah menjadi raja dan berdiam di Yerusalem, Daud menjadikan kota itu sebagai pusat pemerintahan, dan juga ingin agar kota itu menjadi pusat keagamaan umat Israel. Daud yang selalu hidup berpusat kepada Tuhan ingin bangsanya menjadikan Tuhan pusat hidup mereka. Sejak zaman Eli, tabut Allah tidak berada di tempat yang seharusnya––di dalam Kemah Suci––tetapi di rumah biasa, rumah Abinadab di Kiryat Yearim. Oleh karena itu, Daud ingin memindahkan tabut itu ke Yerusalem.
Akan tetapi, ketika tabut itu dipindahkan, terjadi peristiwa yang sangat mengejutkan. Uza—yang mengawal tabut di samping pedati—dibunuh TUHAN karena ia menyentuh tabut itu, padahal tindakan spontan itu dimaksudkan untuk mencegah tabut itu jatuh ke tanah. Menewaskan Uza adalah tindakan TUHAN yang drastis dan mengusik rasa keadilan Daud. Kita cenderung berpikir bahwa TUHAN terlalu kejam karena membunuh Uza yang memiliki niat baik menjaga tabut. Akan tetapi, sebenarnya TUHAN marah sejak awal proses pemindahan itu. Tabut tidak boleh diangkut dengan pedati, tetapi hanya boleh diangkut di atas bahu para imam dan dibawa dengan berjalan kaki.
Niat Daud dan umat Israel baik. Mereka ingin memindahkan tabut ke tempat yang layak. Daud menyediakan pedati yang baru, yang belum pernah digunakan untuk maksud lain. Daud dan rakyat menari-nari sekuat tenaga sebagai wujud sukacita saat memindahkan tabut. Akan tetapi, bukan hal seperti itu yang dituntut TUHAN. Bagi TUHAN, mendengarkan dan mengindahkan (firman TUHAN) lebih baik dari pada mempersembahkan kurban (1 Samuel 15:22). Peristiwa ini mengingatkan bahwa kekudusan TUHAN tidak boleh diremehkan. Sesudah kembali dari pembuangan dan Bait Suci sudah dibangun kembali, mereka dapat beribadah kembali dengan cara yang benar dan selayaknya. Kegagalan pemindahan tabut mengingatkan umat TUHAN bahwa niat beribadah harus disertai penghargaan terhadap kekudusan TUHAN.
Pada masa kini, niat sebagian orang yang datang mengikuti kebaktian bukan terutama untuk menyembah TUHAN, melainkan untuk "menikmati ibadah". Mereka ingin mendapatkan pengalaman rohani yang menyenangkan jiwa atau emosi. Mereka ingin mendengarkan khotbah yang memuaskan telinga, yang cocok dengan pemikirannya, bukan khotbah yang benar, yaitu khotbah yang mengajar, menegur, dan memperbaiki kesalahan. Ibadah yang berpusat pada diri sendiri bukanlah ibadah yang memuliakan TUHAN. Ibadah yang seperti itu merupakan "gimmick yang sia-sia" di mata TUHAN. Ibadah seperti apa yang biasanya Anda ikuti? Apakah Anda memilih ibadah yang menyenangkan hati TUHAN atau yang menyenangkan hati Anda?