Pasal 10-29 dapat dikatakan dikhususkan untuk Daud, karena penulis ingin menjadikannya sebagai sosok panutan bagi orang Israel, yaitu model orang saleh yang diperkenan Allah. Meskipun Daud bukan orang yang sempurna, dalam hal relasi dengan Tuhan, dia lebih baik daripada kebanyakan orang. Kasih Allah kepada Daud bukan favoritisme buta, melainkan respons yang adil atas sikap hati Daud. Dengan demikian, penulis mendorong agar setiap orang meneladani Daud untuk mencari perkenan Allah. Untuk menunjukkan bahwa Allah mengasihi Daud bukan karena pilih (continue)





