Nabi Yehezkiel dibawa ke gerbang timur Bait Suci, tempat para pemimpin bangsa berkumpul untuk mengambil keputusan penting, baik politik maupun rohani. Di sana, para pemimpin itu menggambarkan Yerusalem seperti "kuali besi". Mereka merasa kota ini kuat, tidak tergoyahkan, dan mampu melindungi mereka. Padahal sesungguhnya, ini adalah rasa aman yang palsu. Hati para pemimpin sudah jauh dari TUHAN; dan Ia akan berperkara dengan mereka. Para pemimpin yang seharusnya memimpin dengan hikmat justru memimpin dengan kesombongan. Mereka yang dipanggil menggembalakan umat (continue)





