Bayangkan sebuah malam pesta besar di istana Babel. Raja Belsyazar mengadakan jamuan megah untuk seribu pembesar. Anggur mengalir deras, musik bergema, tawa memecah ruangan. Akan tetapi, di tengah kemabukan dan sorak-sorai, ia melakukan sesuatu yang melampaui batas, yaitu ia mengambil perkakas Bait Allah di Yerusalem, yang kudus bagi Allah, dan menggunakannya untuk minum anggur sambil memuji ilah-ilah dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu, dan batu. Tiba-tiba, suasana berubah. Jari-jari tangan manusia muncul dan menulis (continue)





