Yakobus 3

Iman Sejati Berbuah Damai

11 Desember 2021
GI Michele Turalaki

Rasanya hati kita hancur saat menjumpai pertikaian dalam komunitas tubuh Kristus. Akan tetapi, inilah realitas kehidupan! Pertikaian tidak hanya terjadi sekarang, tetapi sudah ada sejak dulu. Dalam suratnya, selain mengungkapkan persoalan komunitas orang percaya dalam hal pembedaan status miskin/kaya, Yakobus juga mengungkapkan adanya pertikaian. Apa nasihat Yakobus untuk mengatasi masalah ini?

Pertama, iman sejati seharusnya tercermin melalui ketaatan untuk "mengekang" lidah (3:1-12). Lidah itu seperti kekang pada mulut kuda dan kemudi pada kapal: sesuatu yang berukuran kecil, tetapi dapat mengontrol sesuatu yang besar. Lidah juga seperti api: betapa pun kecilnya, api dapat membakar hutan yang besar (3:3-5). Lidah dapat mengontrol, tetapi dapat juga menghancurkan. Apakah hal ini berarti bahwa Yakobus mengajar kita untuk menjadi orang yang "serba diam untuk hal apa pun"? Tentu tidak! Yakobus mengingatkan orang percaya untuk menyatakan iman melalui ucapan yang dikontrol. Ia mengingatkan bahwa seharusnya ada konsistensi dalam perbuatan sehari-hari karena tidak mungkin berkat dan kutuk muncul dari mulut yang sama (3:9-12).

Kedua, yang menjadi pokok masalah bukan sekadar perkara "mengontrol lidah", melainkan sesuatu yang lebih mendasar. Hal kedua inilah yang menjadi kunci untuk mengatasi pertikaian, yaitu meminta dan menjalani hidup berdasarkan hikmat dari Allah (3:13-18). Bukankah apa yang diucapkan mulut merupakan cermin isi hati? Jika kita menaruh perasaan iri hati, mementingkan diri sendiri, memegahkan diri dan berdusta melawan kebenaran, sesungguhnya kita sedang dikuasai oleh hikmat yang datangnya dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan. Itulah sumber iri hati, mementingkan diri sendiri, kekacauan, dan segala macam perbuatan jahat (3:15-16). Memang, "tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah" (3:8). Akan tetapi, bila seseorang sungguh-sungguh meminta hikmat Allah dalam iman dan rindu mewujudkan perbuatan yang selaras dengan iman yang sejati, hikmat Allah yang murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan, penuh buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik akan bekerja dalam dirinya. Singkatnya, perwujudan hikmat Allah adalah damai. Iman yang sejati pasti berbuahkan damai, bukan pertikaian. Apakah komunitas gereja tempat Anda berada diwarnai oleh pengekangan lidah dan kedamaian sebagai pewujudan hikmat Allah?


Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design