Nehemia 1

Kepedulian terhadap Umat Allah

9 November 2022
Pengantar Kitab Nehemia
Pertolongan Tuhan dalam Pelayanan

Yerusalem ditaklukkan oleh kerajaan Babel pada tahun 586 BC. Bait Allah dihancurkan dan harta bendanya dirampas. Kemudian kerajaan Babel ditaklukkan oleh Kerajaan Persia pada tahun 540 BC. Raja-raja Persia mengizinkan para tawanan kembali ke negeri mereka dan beribadat secara bebas sejauh mereka berjanji untuk tidak memberontak terhadap Kerajaan Persia. Ezra dan Nehemia adalah pemimpin-pemimpin penting selama seratus tahun pertama sesudah umat Allah kembali ke Yehuda dari pembuangan. Semula, kitab Ezra dan kitab Nehemia merupakan satu kitab, Kedua kitab itu merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi dalam menuturkan perjalanan umat Allah pada masa kembalinya bangsa Yahudi dari pembuangan. Kitab Ezra menuturkan pembangunan kembali Bait Allah, sedangkan kitab Nehemia menuturkan pembangunan kembali kota Yerusalem.

Kitab Nehemia membahas pelayanan Nehemia yang dipakai Allah untuk membangun kembali kota Yerusalem. Nehemia adalah orang Yahudi yang berada di daerah pembuangan. Dia mendapat kepercayaan untuk menjadi pelayan pribadi raja Artahsasta I (Artaxerxes, 465-424 BC) dengan tugas menjadi juru minuman raja di kerajaan Persia. Dia mendapat kepercayaan untuk menjadi bupati di Yehuda dengan membawa sekelompok orang Yahudi kembali ke Yerusalem dan memimpin pembangunan di Yerusalem.

Pembangunan kembali kota Yerusalem menjadi sangat penting mengingat bahwa Yerusalem adalah kota tempat Bait Allah berada. Jadi, pembangunan kota Yerusalem sangat berkaitan dengan identitas bangsa Yahudi sebagai umat pilihan Allah. Nehemia yang diangkat menjadi bupati di Yehuda bukan hanya melakukan pembangunan secara fisik, tetapi juga mengerjakan pembangunan secara sosial dan politik, termasuk memulihkan peribadatan kepada Allah. Pelayanan tersebut tidak mudah. Banyak tantangan yang harus mereka hadapi, baik tantangan dari luar maupun tantangan dari dalam bangsanya sendiri. Sekalipun demikian, pertolongan Tuhan yang nyata membuat Nehemia berhasil menyelesaikan tugasnya.

Pada masa kini, tugas dan tanggung jawab umat Allah bukanlah membangun tembok kota, melainkan memelihara dan membangun gereja-Nya. Saat melaksanakan tanggung jawab tersebut, kita akan menghadapi berbagai tantangan, baik tantangan dari luar maupun tantangan dari dalam. Melalui renungan kitab Nehemia, kita akan belajar dari sikap Nehemia saat menghadapi berbagai tantangan serta menyimak tentang bagaimana Tuhan menolong saat Nehemia menghadapi berbagai tantangan. [GI Benny Wijaya]





Renungan GeMA 9 November 2022
Kepedulian terhadap Umat Allah

Nehemia adalah seorang Yahudi yang berada di pembuangan. Saat itu, yang berkuasa adalah Raja Artahsasta dari kerajaan Persia (2:1). Nehemia dipercaya menjadi juru minuman raja (1:11) yang bertugas menyediakan dan mencicipi minuman yang hendak disajikan kepada raja. Kedudukan ini sangat penting karena sebagai pelayan pribadi raja, ia memiliki kedekatan dengan sang raja. Jelas bahwa kedudukan tersebut membuat kondisinya nyaman. Nehemia mencatat bahwa ia sedang bertugas pada tahun kedua puluh pemerintahan raja Artashasta (1:1) yang diperkirakan tahun 446 BC atau 140 tahun setelah Yerusalem runtuh. Sangat mungkin bahwa Nehemia lahir pada masa pembuangan.

Walaupun kondisinya nyaman, Nehemia yang belum pernah tinggal di Yerusalem itu tetap peduli terhadap kondisi bangsanya yang tinggal di Yerusalem. Hal ini jelas terlihat saat salah seorang saudaranya datang dari Yerusalem. Dia tidak memfokuskan diri untuk menceritakan kenyamanan yang ia nikmati di Kerajaan Persia. Sebaliknya, Nehemia menanyakan kondisi bangsanya yang berada di Yerusalem (1:2). Saat Nehemia mendengar berita bahwa saudara-saudaranya mengalami kesukaran besar dan mereka tercela karena tembok Yerusalem masih porakporanda, sukacita karena kenyamanannya lenyap dan diganti dengan dukacita karena kepeduliannya terhadap bangsanya. Nehemia menangis dan berkabung selama beberapa hari. Yang mengesankan, kepedulian Nehemia terhadap bangsanya itu ia ungkapkan kepada Allah melalui doa dan puasa (1:4). Walaupun ia hidup dalam pembuangan, ia tetap mempertahankan iman yang didasarkan pada firman Allah (1:8). Dia tahu bahwa hanya Allah yang mampu menjawab kepeduliaannya. Dalam doanya, dia tidak mengkambinghitamkan nenek moyangnya yang telah berdosa kepada Allah, tetapi dia menempatkan diri sebagai bagian dari umat yang telah berbuat dosa kepada Allah (1:6). Sikap Nehemia ini mengingatkan kita kepada perkataan Rasul Paulus bahwa seluruh umat Allah merupakan satu tubuh, yaitu tubuh Kristus, dan setiap orang percaya merupakan anggota tubuh. Bila satu anggota menderita, seluruh anggota akan turut menderita. Sebaliknya, bila satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita (1 Korintus 12:26).

Sejauh mana kepedulian Anda terhadap sesama anggota umat Allah? Apakah kepedulian Anda membuat Anda menempatkan diri pada posisi sesama anggota umat Allah yang sedang menderita? [Pdt. Hendro Lim]

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design