Para pemimpin agama Yahudi—khususnya para ahli Taurat dan orang-orang Farisi—berusaha menaati hukum Taurat, tetapi mereka tidak memahami esensi atau inti dari hukum-hukum itu. Mereka tidak menyadari bahwa manusia tidak diciptakan untuk melestarikan hukum Sabat, tetapi hukum Sabat dibuat untuk kepentingan manusia, dan Yesus Kristus adalah Tuhan atau Tuan (Penguasa) atas hari Sabat (6:5, bandingkan dengan Markus 2:27-28). Dialah yang memiliki wewenang untuk menentukan bagaimana aturan Sabat harus dilaksanakan. Hukum Sabat—yaitu kewajiban untuk beristirahat pada hari Sabat—diberikan supaya manusia menyadari keterbatasannya sebagai manusia serta kebutuhannya untuk beristirahat, dan bukan dimaksudkan untuk mengekang kebebasannya. Oleh karena itu, hukum Sabat seharusnya tidak menjadi penghalang bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan makanan dan kesehatan.
Kita perlu memahami esensi atau inti dari aturan-aturan atau kebiasaan-kebiasaan dalam kehidupan bergereja. Di gereja tertentu, kadang-kadang kebiasaan yang sudah berlangsung bertahun-tahun bisa dianggap sebagai hukum yang wajib dipatuhi. Sebagai contoh, di gereja tertentu, alat musik—misalnya piano atau gitar—dianggap sebagai identitas keagamaan. Bila alat musik menjadi identitas, kita akan sulit menikmati ibadah yang diselenggarakan dengan alat musik yang berbeda dengan alat musik yang biasa kita pakai dalam ibadah di gereja kita. Sadarilah bahwa yang terpenting dalam kekristenan adalah menjalin relasi dengan Allah dan dengan manusia. Kita harus menyingkirkan segala sesuatu yang bisa menghambat pengabdian kita kepada Tuhan, dan kita harus menyingkirkan semua kebiasaan yang menghambat kita untuk mengasihi sesama. Ketaatan para ahli Taurat dan orang Farisi terhadap aturan Sabat tidak disertai dengan pemahaman yang tepat sehingga aturan itu menghilangkan rasa empati terhadap para murid yang sedang merasa lapar dan bahkan menghilangkan belas kasihan terhadap seorang yang tangan kanannya mati.
Bacaan Alkitab hari ini mengingatkan kita untuk mengevaluasi kembali aturan atau kebiasaan kita dalam mempraktikkan iman Kristen, baik dalam hal kehidupan pribadi maupun kehidupan bergereja. Kita harus menjauhkan semua kebiasaan yang bertentangan dengan kehendak Allah, khususnya hal-hal yang menghambat kita dalam beribadah dan melayani Tuhan. Kita juga harus terus meningkatkan kasih kita kepada sesama melalui tindakan nyata. Apakah ada hal tertentu yang Anda rencanakan untuk Anda kerjakan sebagai wujud kasih Anda kepada Allah dan kepada sesama?