Saat melihat kejahatan yang dibiarkan saja, kita mungkin bertanya, "Mengapa orang jahat tampak bebas dan sukses, sedangkan orang benar menderita?" Perasaan seperti itu bukan hal baru! Pemazmur pun mengalami pergumulan seperti itu. Mazmur 94 adalah mazmur ratapan yang berisi seruan dan harapan agar TUHAN memberi keadilan. Konteks mazmur ini adalah kondisi umat Allah yang tertindas oleh penguasa yang tidak takut akan TUHAN. Ketidakadilan sosial merajalela. Mereka yang seharusnya menegakkan hukum justru menjadi pelanggar hukum. Pemazmur dengan nada lantang berseru agar TUHAN segera bertindak sebagai hakim yang adil. Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita akan menelusuri doa pemazmur tersebut.
Pertama, seruan kepada TUHAN, hakim semesta (94:1-2). Pemazmur membuka dengan seruan penuh emosi. Ia memanggil TUHAN sebagai "Allah pembalas", bukan karena dendam, tetapi karena kerinduan akan keadilan. Pemazmur mengungkapkan iman bahwa TUHAN tidak akan membiarkan kejahatan terjadi tanpa hukuman. Kedua, keluhan atas kejahatan yang merajalela (94:3-7). Pemazmur menggambarkan betapa merajalelanya kejahatan: Pembunuhan terhadap para janda dan anak yatim, penindasan terhadap orang lemah, dan kelancangan terhadap TUHAN. Mereka berkata, "TUHAN tidak melihat." Ketiga, peringatan terhadap orang bebal (94:8-11). Pemazmur menegaskan bahwa TUHAN bukan hanya melihat, tetapi juga memahami segala yang terjadi. Pemazmur menegur mereka yang menganggap TUHAN tidak peduli. Bukankah TUHAN yang menciptakan telinga dan mata juga mampu melihat dan mendengar? Keempat, penghiburan dan pengharapan bagi orang benar (94:12-22). Pada bagian ini, ratapan berubah menjadi pujian. Pemazmur sadar bahwa melalui penderitaan, TUHAN mengajar dan mendidik umat-Nya. Kemenangan orang jahat tidak akan bertahan lama! TUHAN tidak akan meninggalkan umat-Nya!
Bacaan Alkitab hari ini mengajak kita untuk tetap memercayai TUHAN, sekalipun dunia terasa tidak adil. Kita diajar untuk datang kepada TUHAN dengan kejujuran, memercayai penghakiman-Nya, dan tetap bertahan dalam kebenaran, sekalipun sikap seperti itu tidak populer. Setiap bagian dari mazmur ini merupakan cermin bagi kita untuk mengintrospeksi diri dengan bertanya: Apakah Anda percaya bahwa TUHAN itu adil? Apakah Anda tetap berani hidup secara benar dalam dunia yang curang? Apakah Anda sudah menghibur sesama yang tertindas? Meskipun Anda tidak selalu bisa langsung melihat jawaban Tuhan, yakinilah bahwa Dia adalah Hakim yang adil, yang menghibur umat-Nya, dan yang akan menghukum ketidakadilan!