Mazmur 102

Hidup Rapuh, Allah Tetap Kekal

13 Januari 2026
GI Yorimarlina Umboh

Ada masa dalam hidup kita, saat hidup terasa seperti "retak." Kita bekerja, melayani, atau belajar, tetapi ada beban tak terlihat yang terus menekan. Kita merasa lelah saat bangun pagi dan kita terus berpikir saat tidur malam. Saat melihat media sosial, semua terlihat baik, stabil, berhasil, tetapi kita berkata dalam hati, "Tuhan, aku lelah... apakah Engkau mendengar aku?" Di tengah dunia yang berubah cepat, kita makin sadar betapa rapuhnya kita sebagai manusia. Emosi, kesehatan, relasi, keuangan, semuanya bisa runtuh dalam sekejap. Namun, bacaan Alkitab hari ini memperlihatkan suatu kontras: Di tengah hidup yang retak dan rapuh, ada Tuhan yang tidak berubah. Ada Allah yang kekal, yang tetap memerintah, tetap mendengar, dan tetap peduli.

Mazmur 102 ditulis saat Israel menderita, mungkin saat pembuangan di Babel, ketika umat melihat kehancuran Yerusalem dan merasa bahwa Tuhan jauh. Mazmur ini dimulai dengan ratapan pribadi, lalu melebar menjadi pengharapan nasional. Mazmur ini menunjukkan perjalanan iman, dari rasa hancur menuju kesadaran bahwa Allah bersemayam untuk selamanya. Doa pemazmur menggambarkan adanya rasa sesak, "TUHAN, dengarkanlah doaku .... Janganlah sembunyikan wajah-Mu terhadap aku ...." (102:2-3). Pemazmur membuka dengan kerinduan yang mendalam. Doanya bukan berbisik, bukan formal, tetapi mendesak! Kata "berseru" (102:3) menunjukkan bahwa ia berada di ujung kekuatannya. Ia merasa bahwa Allah jauh, tetapi justru itulah yang membuat ia datang kepada-Nya. Iman sejati tidak melenyapkan jarak, tetapi iman membuat ia tetap datang kepada Allah saat merasakan jarak. Pemazmur berkata: "Hari-hariku seperti bayang-bayang memanjang...Tetapi Engkau, ya TUHAN, bertakhta untuk selama-lamanya, ...." (102:12-13). Ayat ini menunjukkan kontras: Manusia itu bersifat sementara seperti bayang-bayang yang memanjang, kemudian hilang, sedangkan Allah itu kekal, bersemayam untuk selamanya. Pemazmur menyadari bahwa hidupnya tidak stabil, tetapi Tuhan adalah pusat yang tak berubah. Titik balik iman terjadi saat pergumulan pribadi bertemu karakter Allah yang tidak pernah berubah. Dunia bisa berubah, tetapi Allah tetap sama (102:26-28). Tubuh melemah, kasih setia Allah tidak! Generasi berganti, janji Tuhan tetap. Kondisi ini merupakan penghiburan yang besar: Kita hidup dalam dunia yang berubah, tetapi Allah—yang mengasihi kita—tidak berubah. Hidup kita rapuh seperti debu tertiup angin. Namun, di tengah segala kelemahan itu, kita memiliki Allah yang kokoh, tetap dan kekal. Dia tak pernah berubah sehingga kita punya pengharapan di dalam Dia. Apakah Anda sadar bahwa Allah tak berubah dari dulu dan sampai selamanya? Apakah Anda yakin bahwa janji Allah dapat dipercaya?

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design