Di zaman ini, manusia mudah mengingat hal-hal yang menyakitkan, tetapi cepat melupakan hal-hal yang baik. Kritik lebih lama diingat daripada pujian. Kegagalan lebih teringat jelas daripada keberhasilan. Sehabis mendapat pertolongan Tuhan, kita sering kembali cemas saat masalah baru muncul. Kita seperti orang yang kemarin ditolong Tuhan, tetapi hari ini berkata, "Tuhan, apakah Engkau masih peduli?"
Mazmur yang ditulis Daud ini berbeda dengan mazmur ratapan. Mazmur ini adalah pujian pribadi yang berkembang menjadi pujian universal. Yang menarik, Daud berbicara kepada jiwanya sendiri—bukan kepada bangsa Israel atau kepada orang lain—untuk memuji TUHAN, "Pujilah TUHAN, hai jiwaku! ... dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya." (103:1-2). Daud menyadarkan jiwanya. Kita sering lupa memuji TUHAN bukan karena masalah besar, tetapi karena jiwa kita rapuh dan mudah lupa. Daud menunjukkan bahwa pujian bukan soal perasaan, tetapi keputusan. Ia tidak menyuruh jiwanya memuji tanpa alasan. Perhatikan daftar kebaikan TUHAN: mengampuni segala kesalahanmu, menyembuhkan segala penyakitmu, menyelamatkan nyawa dari liang kubur, memahkotai dengan kasih setia dan rahmat, memuaskan hasrat dengan kebaikan (103:3-5). Daud menuliskan semua ini karena mengingat kebaikan TUHAN adalah cara untuk mempertahankan iman. Ia memaparkan hati TUHAN yang lembut dan selalu terbuka terhadap anak-anak-Nya, "TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia." (103:8). TUHAN tidak cepat menghukum, melainkan penuh belas kasihan. Ia mengerti kelemahan kita, "Sebab Dia tahu dari apa kita dibentuk, Dia ingat bahwa kita ini debu." (103:14) Bacaan Alkitab hari ini merupakan penghiburan bagi jiwa yang rapuh. TUHAN tidak menuntut kesempurnaan karena Ia tahu bahwa kita rapuh, mudah goyah, dan terbatas. Akan tetapi, kerapuhan kita itulah yang membuat Ia melingkupi kita dengan belas kasihan seperti sikap seorang bapak terhadap anak-anaknya. Kasih Tuhan tidak seperti kasih manusia yang naik turun, "Tetapi, kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang yang takut akan Dia, ...." (103:17-18). Kasih-Nya bukan hanya berlaku hari ini, tetapi berlangsung sampai generasi yang akan datang. Jadi, hidup kita berada dalam tangan Allah yang tidak berubah. Mazmur 103 adalah undangan untuk berhenti sejenak dan menyadari betapa banyak alasan bagi kita untuk memuji Tuhan. Saat memandang hidupnya, Daud tidak menemukan alasan untuk mengeluh, tetapi alasan untuk bersyukur. Apakah Anda sadar bahwa dalam setiap keadaan, setiap kesusahan, setiap hal kecil, kita bisa menemukan jejak kasih TUHAN yang tidak pernah berakhir?