Yesus Kristus mempunyai dua natur atau kodrat dalam satu pribadi. Dia memiliki natur ilahi dan natur manusiawi, artinya 100% Allah dan 100% manusia. Kedua natur ini bersatu dalam satu pribadi tanpa bercampur, sehingga Ia sepenuhnya Allah, sekaligus sepenuhnya manusia. Doktrin ini penting karena menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang memiliki kuasa dan sifat ilahi, sekaligus Manusia yang dapat mengalami penderitaan. Kedua natur ini membuat Ia dapat menjadi Penghubung antara Allah dan manusia. Sebagai Allah dan manusia, Ia dapat menebus dosa dan dapat berempati terhadap penderitaan manusia yang mengalami tantangan dan cobaan. Doktrin inilah yang dibicarakan dalam ayat 14-15. Yesus Kristus adalah Imam Besar Agung yang melintasi semua langit. Di satu pihak, Ia telah naik ke surga dan melintasi semua langit, sehingga menegaskan kemenangan-Nya atas dosa dan maut. Hal ini menegaskan otoritas ilahi-Nya. Di pihak lain, Ia menampilkan sisi kemanusiaan-Nya, Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Sebaliknya sama seperti kita, Ia telah dicobai dalam segala hal, hanya saja Ia tidak berbuat dosa. (4:15).
Ia menjadi Perantara antara kita dengan Allah. Yesus Kristus sama seperti kita yang telah dicobai. Yang membedakan Dia dengan kita adalah bahwa Dia selalu menang atas pencobaan dan tidak pernah berbuat dosa. Saat dicobai oleh Iblis di padang gurun (Matius 4:1-11), setelah berpuasa, Dia juga lapar. Dia punya keinginan sama seperti kita, tetapi keinginan-Nya bisa Ia kendalikan. Saat merasa lapar, Ia tidak mau menuruti perintah Iblis untuk memamerkan kuasa dengan mengubah batu menjadi roti, sehingga Ia tidak berbuat dosa. Ketika Iblis menawarkan seluruh dunia, Ia tidak mau tunduk dan menyembahnya sebagai ganti kuasa dan kenikmatan dunia. Dia dicobai sama seperti kita, tetapi Dia menang atas semua pencobaan yang Ia hadapi. Dia merupakan teladan yang harus kita ikuti saat kita menghadapi pencobaan, agar kita bisa menang atas pencobaan itu. Ada tiga pencobaan yang perlu kita waspadai dan kita lawan, yaitu: keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Ketiga hal tersebut berasal dari dunia ini, bukan dari Bapa (1 Yohanes 2:16). Supaya bisa menang atas pencobaan, kita tidak boleh berkompromi dengan filsafat dunia. Dengan bersandar kepada anugerah Tuhan, kita harus berperang melawan pencobaan setiap hari, dan kita harus menang. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus yang sudah menang atas pencobaan sanggup menolong kita agar kita juga menang atas pencobaan. Apakah Anda selalu bersandar kepada Tuhan Yesus saat Anda menghadapi pencobaan?