Jabatan imam besar dalam Perjanjian Lama umumnya berlaku seumur hidup. Jabatan itu bersifat turun temurun, diteruskan dari ayah kepada anak sulungnya dalam garis keturunan Harun. Namun, ada beberapa kondisi yang menyebabkan seorang imam besar berhenti menjabat, yaitu bila ia meninggal atau melakukan pelanggaran serius berupa dosa besar atau tidak setia kepada Allah seperti yang terjadi dengan Imam Eli dan keturunannya (1 Samuel 2:27-36). Imam Eli diganti oleh orang lain yang ditentukan Allah agar pelayanan kepada umat tidak terhambat.
Pembatasan jabatan Imam Besar tidak berlaku untuk Yesus Kristus. Jabatan Imam Besar Kristus bersifat melekat selama-lamanya (7:21). Imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain (7:24). Ada dua hal penting berkaitan dengan Kristus sebagai Imam Besar yang jauh lebih unggul dan sempurna dibandingkan Imam Besar dalam Perjanjian Lama: Pertama, Kristus adalah jaminan bagi perjanjian yang lebih baik (7:22). Sebagai "jaminan", Dia memastikan terpenuhinya syarat keimaman perjanjian, sehingga Ia layak menjadi Penjamin dalam perjanjian yang baru. Ia memampukan orang percaya menerima keselamatan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Artinya, keselamatan tergantung pada apa yang Ia lakukan, bukan pada kemampuan manusia memenuhi hukum. Kedua, Kristus adalah Imam Besar yang menjadi Pengantara antara Allah dan manusia. Oleh karena itu, Ia sanggup menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang datang kepada Allah melalui Dia (7:25), bahkan Ia menjamin bahwa orang yang telah Ia tebus akan terpelihara hingga akhir zaman. Sebagai Pengantara, hingga kini, Dia tetap melayani kepentingan orang percaya. Kita terhubung dengan Allah Bapa karena Yesus Kristus. Doa syafaat kita tidak akan sampai kepada Allah Bapa jika tidak ada Sang Pengantara Agung. Dialah yang menyampaikan doa syafaat kepada Allah Bapa agar milik kepunyaan-Nya dilindungi, dikuduskan, dan dipersatukan dengan Bapa, Orang percaya hidup dalam kasih, baik kepada Bapa maupun kepada sesama seperti yang telah Ia ajarkan dan peragakan (Yohanes 17:6-26).
Karya Kristus yang menyelamatkan hidup kita tidak berhenti di masa lalu. Kasih dan kepedulian-Nya tetap bekerja hingga saat ini. Sebagai Imam Besar, Ia turut merasakan kelemahan kita (Ibrani 4:15). Kelemahan ini mencakup segala kelemahan, baik fisik, mental, maupun rohani. Ia tidak membiarkan kita berjuang sendiri dalam menghadapi kelemahan, tetapi Ia mendampingi kita senantiasa. Ia turut menderita dan mengambil bagian dalam kelemahan kita. Ambillah waktu untuk bersyukur kepada Tuhan! Setelah dikuatkan oleh Kristus, apakah Anda telah menguatkan iman orang lain?