Pasal ini menyingkapkan perbedaan hati Allah dan hati Nabi Yunus, antara kasih Allah dan kasih Nabi Yunus. Alasan utama penolakan Nabi Yunus untuk pergi ke Niniwe disebutkan dalam pasal ini, yakni karena Allah itu penuh kasih sayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya (4:4). Intinya, Yunus tidak rela orang Niniwe mendapat anugerah pengampunan dari Allah. Sikap ini muncul dari pemahaman teologis yang legalistis dan disusupi rasisme. Nabi Yunus menganggap bangsa Asyur yang jahat itu tidak pantas menerima anugerah Allah. Bagi Nabi Yunus, yang pantas menerima anugerah hanya bangsa Yahudi dan orang saleh seperti dirinya yang rajin beribadah dan berbuat baik. Tidak mengherankan bahwa saat penduduk Niniwe bertobat, Nabi Yunus justru kesal, bahkan ingin mati (4:1, 3).
Allah memberi pelajaran kepada Nabi Yunus dengan menumbuhkan pohon untuk tempat berlindung, lalu Allah segera mengutus ulat untuk membuat pohon itu layu dan mati, sehingga Nabi Yunus marah dan ingin mati (4:6-8). Kemudian, Allah menegurnya di ayat 9-10. Sikap Nabi Yunus yang mengasihi pohon yang tidak ia tanam, tetapi kesal saat melihat Allah mengasihi penduduk Niniwe yang Ia ciptakan, merupakan dua sikap yang bertentangan. Yunus marah melihat pohon itu mati, tetapi ia tidak merasa kasihan bila penduduk Niniwe mati dihukum TUHAN. Sebenarnya, saat berada di perut ikan, Nabi Yunus mulai memahami kasih Allah dan bertobat dari dosa rasismenya. Ia sadar bahwa orang Niniwe sejajar dengan bangsa Israel dan sama-sama berhak dikasihi Allah, sehingga ia mau diutus ke Niniwe. Akan tetapi, kemarahan Yunus dalam bacaan Alkitab hari ini menunjukkan bahwa ia belum sungguh-sungguh memahami hati Allah. Ia menerima konsep bahwa Allah itu penuh kasih, tetapi dia terkejut saat kasih Allah dipraktikkan. Ia marah melihat Allah benar-benar mengampuni bangsa kafir yang jahat dan menyengsarakan banyak bangsa, termasuk bangsa Israel.
Seperti Nabi Yunus, banyak orang Kristen tidak suka melihat orang lain diampuni atau diberkati Tuhan. Kita gagal memahami betapa luasnya hati Allah. Sejak jatuh dalam dosa dan diusir dari taman Eden, manusia tinggal di hatinya sendiri yang sempit dan egois. Akibatnya, kita marah saat Allah mengasihi dan memberkati orang-orang yang ada di hati Allah. Sebagai orang percaya yang mengemban misi Allah di tengah dunia, kita perlu terus menyelami hati Allah yang luas itu. Hati Allah serta kasih-Nya yang besar tampak paling jelas di kayu salib. Salib adalah pengingat, sekaligus sumber motivasi dan kekuatan, agar kita bisa mengasihi semua yang Allah kasihi. Apakah selama ini Anda tekun dan serius memandang dan merenungkan salib Tuhan Yesus?