Situasi yang dihadapi oleh Nabi Mikha sangat sulit. Pada masa itu, ketentuan Allah sudah diabaikan. Saat panen, hasil panen yang tertinggal seharusnya dibiarkan supaya bisa diambil oleh orang miskin. Akan tetapi, pada masa Nabi Mikha, kebiasaan yang baik itu sudah ditinggalkan. Sehingga tidak ada hasil panen yang tersisa (7:1). Saat itu, nilai kesalehan dan kejujuran—yang seharusnya dijunjung tinggi—sudah ditinggalkan. Banyak orang berperilaku jahat, sedangkan hukum bisa diputar balik dengan memberi suap. Orang yang paling baik bukan orang yang berbuat baik secara aktif, melainkan orang yang berbuat jahat secara pasif. Karena kondisi moral masyarakat sudah merosot, teman pun sudah tidak bisa dipercaya. Hubungan dalam sebuah keluarga sangat buruk. Dalam keadaan seperti itu, Nabi Mikha memilih untuk menantikan pertolongan Tuhan. Dia hanya bisa mengandalkan dan berharap kepada pertolongan Allah. Dia pasrah bila dihukum TUHAN dan dia hanya berharap pada pembelaan TUHAN. Dalam keadaan yang buruk itu, Nabi Mikha hanya bisa berharap agar Allah menggembalakan, menolong, serta mengampuni dosa dan pelanggaran umat-Nya.
Walaupun kondisi kita berbeda dengan kondisi pada zaman Nabi Mikha, kita juga hidup dalam situasi yang sulit. Standar moral pada masa kini sudah sangat kacau. Hal-hal yang dahulu dibicarakan secara sembunyi-sembunyi—seperti perselingkuhan atau hubungan seks sesama jenis—sekarang dilakukan secara terang-terangan tanpa merasa malu. Pelanggaran hukum, seperti pelanggaran terhadap aturan lalu lintas, juga bisa dilakukan tanpa merasa bersalah. Koruptor yang tertangkap basah tidak tampak merasa malu, bahkan ada yang tampak seperti merasa bangga. Masalah manusia pada masa kini masih ditambah dengan kerusakan lingkungan yang semakin parah yang mengakibatkan polusi dalam skala mengkhawatirkan dan ancaman banjir dan tanah longsor. Munculnya penyakit baru yang disebabkan mutasi genetik dan kerusakan lingkungan juga menjadi ancaman yang menakutkan. Dalam keadaan seperti ini, kita tidak selalu bisa mengharapkan pertolongan manusia. Yang paling dapat diandalkan adalah TUHAN. Kita harus berharap kepada TUHAN atau kita tidak akan memiliki pengharapan!
Apakah Anda masih setia menjalin relasi dengan TUHAN dan berusaha mengenal dan melaksanakan kehendak-Nya dalam hidup Anda? Apakah Anda saat ini sedang menghadapi masalah yang terasa amat menekan dan mengganggu pikiran Anda? Saat menghadapi masalah, apakah Anda sudah membiasakan diri untuk selalu berharap kepada pertolongan TUHAN?