Yohanes 18:28-40

Pengadilan Paksaan terhadap Kristus

31 Maret 2026
GI Purnama

Pengadilan terhadap Kristus adalah pengadilan yang dipaksakan. Kristus tidak bersalah! Baik pengadilan agama yang dipimpin oleh imam besar maupun pengadilan negeri yang dipimpin oleh Pilatus tidak dapat menemukan kesalahan Kristus. Hati yang jahat dan dipenuhi rasa iri membuat para pemimpin agama bertekad untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus Kristus, walaupun mereka tidak memiliki alasan yang masuk akal. Tuduhan para pemimpin agama saat mereka meminta agar Pilatus mengadili Kristus tidak masuk akal, "Jikalau Ia bukan seorang penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!" (18:30). Mereka menyebut Kristus sebagai seorang penjahat, tetapi mereka tidak bisa memberi penjelasan yang masuk akal. Tujuan mereka bukan menegakkan keadilan, tetapi memaksakan hukuman mati. Mereka membawa Kristus kepada Pilatus hanya karena Mahkamah Agama Yahudi tidak memiliki wewenang untuk menjatuhkan hukuman mati. Setelah memeriksa, Pilatus tidak menemukan kesalahan pada diri Yesus Kristus. Oleh karena itu, Pilatus menawarkan alternatif pelaksanaan pembebasan terdakwa—yang biasa dilakukan setiap hari raya Paskah—dengan pilihan Yesus Kristus atau seorang perampok bernama Barabas. Melalui pilihan itu, Pilatus berharap agar orang banyak memilih Yesus Kristus untuk dibebaskan. Akan tetapi, pilihan massa yang dihasut oleh para pemimpin agama adalah pilihan yang tidak masuk akal: Mereka memilih Barabas—seorang penjahat—untuk dilepaskan, dan mereka memaksa Pilatus agar Yesus Kristus—yang tidak bersalah—disalibkan.

Pengadilan paksaan seperti itu adalah kenyataan yang bisa muncul di sepanjang zaman sampai saat ini. Kita sering mendengar tentang rakyat miskin yang melakukan kesalahan "kecil" (puluhan ribu rupiah, untuk memenuhi kebutuhan perut) dihukum lebih lama dari koruptor yang mencuri uang negara milyaran rupiah. Pada zaman keterbukaan informasi ini, kita bisa membaca atau mendengar sangat banyak berita tentang ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat. Berita semacam ini bisa membuat kita kehilangan semangat, apa lagi bila kita sendiri yang menjadi korban ketidakadilan. Akan tetapi, kita perlu selalu ingat bahwa Yesus Kristus pernah mengalami ketidakadilan, tetapi Dia tetap setia menjalankan misi menyelamatkan orang berdosa karena Dia mengasihi kita. Marilah kita meneladani Kristus yang tetap setia melakukan yang terbaik saat mengalami ketidakadilan! Saat Anda mengalami ketidakadilan, apakah Anda telah membiasakan diri untuk memandang kepada Yesus Kristus yang telah lebih dahulu mengalami ketidakadilan untuk menyelamatkan orang berdosa?

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design