Kehidupan Yesus Kristus memperlihatkan berbagai paradoks. Paradoks adalah hal-hal yang tampaknya saling bertentangan, tetapi sebenarnya tidak. Kristus adalah sosok yang mulia, tetapi Dia bersedia merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib. Dia adalah Raja yang patut dimuliakan, tetapi di kayu salib pun, Dia memperhatikan ibu-Nya dan murid yang Ia kasihi. Tulisan yang diperintahkan oleh Pilatus untuk dituliskan di kayu salib, "Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi," adalah identitas yang benar! Yesus Kristus adalah Raja orang Yahudi, bahkan sebenarnya, Yesus Kristus adalah Raja seluruh dunia ini. Identitas-Nya amat mulia. Sekalipun demikian, di kayu salib, Dia membiarkan diri-Nya dianggap bersalah dan disalibkan di antara dua orang penjahat karena Dia menempatkan diri-Nya sebagai Penebus dosa manusia berdosa. Identitas Yesus Kristus sebagai Raja itu ditulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin, dan bahasa Yunani. Bahasa Ibrani adalah bahasa masyarakat setempat. Bahasa Latin dan bahasa Yunani adalah bahasa Internasional pada masa itu, yang masing-masing terutama digunakan dalam pemerintahan dan kebudayaan. Pemakaian berbagai bahasa itu membuat pengumuman tentang identitas Yesus Kristus itu bisa dimengerti oleh semua orang, termasuk para prajurit Romawi yang menyalibkan Dia, serta memperlihatkan secara tidak langsung bahwa Yesus Kristus adalah Raja—dan sekaligus Penebus dosa—yang lingkupnya mencakup seluruh dunia. Walaupun berada dalam posisi yang tinggi, yaitu sebagai raja, Yesus Kristus memperhatikan mereka yang berada dalam posisi yang rendah. Ia menyadari bahwa penyaliban dan kematian-Nya akan sangat memukul hati orang-orang yang dekat dengan diri-Nya, khususnya Maria—ibu Yesus Kristus—dan seorang murid-Nya yang setia menunggui di dekat kayu salib. Hampir bisa dipastikan bahwa murid yang menyebut dirinya sebagai murid yang dikasihi-Nya itu adalah Yohanes yang menuliskan Injil Yohanes. Sebelum ia wafat, Yesus Kristus "menitipkan" ibu-Nya kepada murid-Nya.
Saat mengalami penderitaan, pada umumnya, manusia cenderung mementingkan dirinya sendiri. Akan tetapi, Yesus Kristus berbeda. Sejak semula, Ia datang ke dunia ini untuk menderita demi kepentingan manusia berdosa. Pengkhianatan yang menyakitkan serta penderitaan dahsyat yang memuncak pada penderitaan di kayu salib tidak bisa mengguncang niat-Nya untuk menebus dosa. Kasih-Nya tidak berubah dalam segala keadaan! Apakah Anda sudah menerima kasih Kristus itu? Apakah Anda sudah meneladani kasih-Nya itu dan Anda sudah memperhatikan orang-orang di sekitar Anda?