Silsilah suku-suku Israel yang lain ditulis secara ringkas di sini karena sisa suku-suku ini hanya sedikit yang tergabung dalam umat yang kembali dari pembuangan. Mungkin, ada catatan silsilah yang hilang saat situasi kacau. Akan tetapi, bacaan Alkitab hari ini juga menunjukkan kesetiaan Tuhan pada janji-Nya untuk memelihara umat-Nya.
Berbeda dengan daftar silsilah di pasal-pasal sebelumnya, di pasal ini, penulis memperhatikan jumlah orang. Seperti kata pepatah: "banyak anak banyak rezeki", Alkitab mengaitkan banyak anak dengan berkat Tuhan. Suku terakhir di daftar ini, yaitu suku Asyer, hanya mempunyai 26.000 orang yang siap berperang (7:40), jauh lebih sedikit daripada suku Isakhar yang berjumlah 145.600 orang (7:1-5). Akan tetapi, pasukan Asyer disebut sebagai orang-orang terpilih dan pemimpin-pemimpin utama (7:40). Artinya, meskipun sedikit, mereka mempunyai kualifikasi yang sangat tinggi, yang dapat melipatgandakan kekuatan mereka.
Jumlah pasukan suku Isakhar yang besar menunjukkan kekuatan mereka, sehingga mereka dapat mempertahankan milik pusakanya, bahkan memperluas kediaman mereka. Kekuatan ini menggenapi janji Tuhan melalui Yakub, "Isakhar bagaikan keledai yang kuat tulangnya, yang meniarap diapit bebannya." (Kejadian 49:14). Kesetiaan Tuhan juga terlihat pada pemulihan suku Efraim. Anak-anak Efraim dibunuh orang-orang Gat, yang meninggalkan duka sangat mendalam baginya. Efraim bukan hanya kehilangan semua anaknya, tetapi juga kehilangan penerus keluarganya. Tampaknya, nubuat dalam berkat Yakub, "keturunan adiknya itu akan menjadi sejumlah besar bangsa" (Kejadian 48:19), tidak akan terjadi. Akan tetapi, Tuhan setia pada janji-Nya. Di usia tua Efraim, istrinya melahirkan seorang anak laki-laki baginya. Dari anak tersebut, suku Efraim bertumbuh menjadi suku yang besar. Salah satu keturunannya sangat kita kenal, yaitu Yosua, yang membawa Israel masuk ke Tanah Kanaan (1 Tawarikh 7:27).
Dalam hidup ini, selalu ada rintangan dan penderitaan. Kadang-kadang, semua jalan tampak tertutup dan tidak ada jalan keluar. Akan tetapi, orang percaya tidak akan kehilangan harapan. Kita percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia selalu memalingkan wajah-Nya kepada kita, memperhatikan kehidupan kita. Pada waktu yang tepat, Dia akan mengulurkan tangan untuk menolong kita. Bahkan, sebelum waktunya tiba, Tuhan akan menguatkan dan menghibur, seperti Tuhan mengirimkan saudara-saudara Efraim untuk menghiburnya, memberinya semangat hidup. Kesesakan justru bisa mengingatkan orang percaya untuk merasakan kehadiran Tuhan. Apakah Anda sudah mempercayakan kehidupan Anda kepada Tuhan?