Pasal 10-29 dapat dikatakan dikhususkan untuk Daud, karena penulis ingin menjadikannya sebagai sosok panutan bagi orang Israel, yaitu model orang saleh yang diperkenan Allah. Meskipun Daud bukan orang yang sempurna, dalam hal relasi dengan Tuhan, dia lebih baik daripada kebanyakan orang. Kasih Allah kepada Daud bukan favoritisme buta, melainkan respons yang adil atas sikap hati Daud. Dengan demikian, penulis mendorong agar setiap orang meneladani Daud untuk mencari perkenan Allah. Untuk menunjukkan bahwa Allah mengasihi Daud bukan karena pilih kasih, penulis mengontraskan Daud dan Saul.
Kisah kematian Saul dalam bacaan Alkitab hari ini hampir persis sama dengan catatan dalam 1 Samuel 31. Pembaca asli kitab ini––orang Israel––pasti mengenal kisah ini, termasuk mengerti mengapa Saul mati secara tragis. Saul sudah banyak memenangkan peperangan, sehingga jelas bahwa ia bukan kalah karena tidak terampil berperang, tetapi karena Tuhan telah meninggalkan dia. TUHAN meninggalkan dia karena Saul tidak peduli terhadap kehendak-Nya. Dia selalu bertindak menurut pikiran dan kemauannya sendiri. Saul membiarkan raja Amalek hidup dan ia mengambil ternak mereka, padahal TUHAN sudah memerintahkan agar ia menumpas semua orang Amalek dan seluruh ternak mereka. Saat ditegur Samuel, Saul tidak mau mengakui kesalahannya dan terus mencari alasan untuk membenarkan diri. Dia tidak menghormati hukum TUHAN. Saul mempersembahkan kurban karena tidak sabar menunggu kedatangan Nabi Samuel. Ia ingin mencari tahu kehendak Allah, tetapi ia tidak langsung mencari Allah, melainkan melalui roh Samuel yang sudah meninggal. Karena tidak mau mencari pengampunan dari Allah, Saul melakukan kesalahan lanjutan, yaitu memanggil arwah yang merupakan kekejian bagi TUHAN.
Sikap Daud kontras dengan sikap Saul. Hati Daud selalu berpaut kepada Allah. Ia mengenal isi hati Allah dan selalu mengikuti kehendak-Nya karena hati dan pikirannya selalu tertuju kepada Allah. Daud juga berdosa, bahkan dosanya sangat besar. Akan tetapi, ketika nabi Natan menegurnya, dia segera mengakui kesalahannya dan memohon ampun kepada Allah. Kontras kedua orang ini menunjukkan perbedaan jalan hidup keduanya. Kehidupan Saul berakhir tragis. Kerajaannya tidak berlanjut. Berkat Allah terlepas dari tangannya. Sebaliknya, Daud diberkati TUHAN dan kerajaannya terus dipelihara Allah. Hal paling utama dalam hidup manusia adalah penyertaan TUHAN dan berkat-Nya. Hal itu kita peroleh hanya bila kita seperti Daud yang hati dan pikirannya selalu tertuju kepada TUHAN. Apakah hati kita selalu berpaut kepada-Nya?