Pembagian kelompok tugas di Bait Suci untuk orang Lewi yang bukan imam ditetapkan sendiri oleh Daud. Akan tetapi, untuk pembagian kelompok tugas para imam, Daud melibatkan Zadok dari keturunan Eleazar serta Ahimelekh dari keturunan Itamar. Anak-anak Harun ialah Nadab, Abihu, Eleazar, dan Itamar. Nadab dan Abihu mati tanpa memiliki anak, sehingga jabatan keimaman Harun diteruskan oleh Eleazar dan Itamar serta keturunan mereka. Pembagian tugas dilakukan secara adil di hadapan seluruh keturunan Harun serta para pembesar, dan dicatat oleh panitera yang juga seorang Lewi, yaitu Semaya bin Netaneel.
Supaya pembagian tugas bisa adil dan tidak terjadi pilih kasih serta tidak ada pembedaan berdasarkan senioritas, popularitas, atau reputasi, dipakailah cara undi. Cara ini dipakai bukan atas dasar percaya pada "nasib" baik orang, melainkan atas dasar percaya bahwa Tuhan sendiri yang menetapkan kelompok tugas lewat undian itu. Mereka menetapkan dua puluh empat kelompok yang bertugas secara bergantian sepanjang tahun. Ada enam belas kelompok dari bani Eleazar dan delapan kelompok dari bani Itamar. Kelompok dari bani Eleazar lebih banyak karena memang jumlah kaum keluarga mereka lebih banyak dari pada kaum keluarga Itamar. Jadi, pembagian ini benar-benar adil dan tidak membeda-bedakan. Tentu saja, ratusan tahun kemudian, kelompok-kelompok ini berubah, apa lagi setelah terjadi kemunduran dalam pelaksanaan ibadah di masa pemerintahan keturunan Salomo yang memuncak dengan dihancurkannya Bait Suci oleh Babel. Kita tidak tahu sejauh mana Tuhan memelihara kelompok-kelompok ini. Namun, setidaknya, ada satu nama yang tercatat di Perjanjian Baru, yaitu Abia yang merupakan kelompok kedelapan. Dalam Lukas 1:5, disebutkan bahwa Zakharia—ayah Yohanes Pembaptis—adalah imam dari rombongan Abia.
Tuhan memanggil setiap orang untuk melakukan pekerjaan tertentu yang membuat ia menjadi berkat bagi orang lain, mulai dari komunitas terkecil––keluarga––sampai kelompok masyarakat luas, bahkan dapat mencakup seluruh kota, negara, atau lintas negara. Sebagian orang mendapat panggilan untuk melakukan tugas yang spesifik, seperti para rohaniwan atau misionaris atau profesi tertentu. Mereka yang dipanggil secara khusus pasti dapat merasakan panggilan itu, baik dari dorongan kuat dalam dirinya atau dari cara lain yang Tuhan pakai. Yang paling umum adalah Tuhan memanggil seseorang melalui talenta, minat, atau kondisi lingkungan. Apakah Anda meyakini bahwa apa pun panggilan kita, Tuhan akan memperlengkapi kita dengan kemampuan yang diperlukan bila kita mengerjakan panggilan itu dengan antusias dan setia?