Raja Rehabeam membangun kota-kota berkubu di kerajaan Yehuda. Dia memperkuat pasukan dengan memperbanyak senjata dan perisai (11:5-12). Hal ini dilakukannya agar kerajaan Yehuda tidak mudah dikalahkan, bahkan mendapat kemenangan, bila terjadi peperangan. Dari sisi rohani, Raja Rehabeam menerima para imam dan orang Lewi yang ditolak keberadaannya oleh Raja Yerobeam, agar mereka dapat menjalankan ibadah di hadapan Tuhan serta mengikuti jejak Daud dan Salomo (11:17). Selama tiga tahun, Raja Yerobeam mengizinkan setiap suku Israel datang untuk beribadah kepada Tuhan di Yerusalem (11:16). Kerajaan Yehuda kokoh dan Raja Rehabeam menjadi raja yang kuat. Sayangnya, kenyamanan justru membuat dia dan penduduk Kerajaan Yehuda berubah. Secara sadar, dia memutuskan untuk meninggalkan Taurat TUHAN (12:1). Dia tidak mau menundukkan diri pada Taurat TUHAN. Taurat TUHAN tidak lagi menjadi pedoman hidup. Dia tidak mau tunduk pada TUHAN yang telah memberikan Hukum Taurat sebagai pedoman hidup bagi umat-Nya.
Mengapa Raja Rehabeam bisa berubah dan melakukan hal yang jahat di mata TUHAN? Perubahan sikap ini disebabkan karena ia tidak mau menetapkan hati untuk mencari TUHAN (12:14). Raja Rehabeam tidak pernah sungguh-sungguh mengarahkan hatinya sepenuhnya kepada TUHAN. Sikap yang terlihat baik selama jangka waktu tiga tahun itu ternyata bukan dilakukan karena ia mengasihi TUHAN, tetapi ia sedang memakai topeng kepura-puraan, sehingga ia seakan-akan setia kepada Tuhan dan menaati Taurat Tuhan, padahal sebenarnya tidak demikian. Sikap sebenarnya dia tunjukkan dengan meninggalkan Taurat TUHAN dan tidak mau tunduk kepada Tuhan.
Sikap pura-pura setia kepada Tuhan itu bukan hanya terjadi pada Raja Rehabeam saja, tetapi juga bisa terjadi pada diri kita. Kita bisa pura-pura setia dan mencintai firman Tuhan, tetapi dalam hati, sebenarnya kita tidak pernah mau taat atau sangat gampang melupakan firman TUHAN yang kita dengar. Kita bisa seakan-akan setia kepada Tuhan saat kita merasa memerlukan Tuhan untuk mengatasi persoalan dalam hidup kita. Akan tetapi, setelah hidup kita mapan, mungkin saja kita begitu mudah memutuskan untuk tidak mau lagi setia kepada Tuhan. Sikap seperti ini sebenarnya bukan menunjukkan bahwa kita berubah setia, tetapi kita membuka topeng kepura-puraan serta menunjukkan jati diri kita yang sebenarnya, yaitu tidak percaya dan tidak setia kepada Tuhan. Periksalah diri Anda: Apakah Anda benar-benar memercayai Yesus Kristus dan Anda bersedia melakukan kehendak-Nya?