Raja Asa telah menjauhkan hatinya dari Tuhan. Dalam 2 Tawarikh 15, Raja Asa mempercayakan hidupnya serta kerajaannya kepada Allah, dan Allah memberikan kemenangan. Akan tetapi, dalam bacaan Alkitab hari ini, saat menghadapi ancaman Baesa, yaitu raja Israel, Raja Asa tidak mencari pertolongan Tuhan, tetapi meminta bantuan Benhadad, raja Aram. Permintaan bantuan ini tidak gratis, tetapi Raja Asa harus menyerahkan upeti berupa emas dan perak yang diambil dari perbendaharaan rumah Tuhan. Tindakan Raja Asa ini bukan tindakan yang benar di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan mengingatkan Raja Asa dengan mengutus Hanani—seorang pelihat atau nabi—untuk mengingatkan bahwa Tuhan pernah menolong saat Raja Asa menghadapi ancaman musuh (tentara Etiopia dan Libia) yang lebih kuat daripada musuh yang saat itu sedang dihadapi oleh rakyat Yehuda (tentara Israel Utara) serta menegur kesalahan Raja Asa yang tidak mengandalkan Tuhan, tetapi mengandalkan pertolongan manusia (tentara Aram). Teguran ini ternyata tidak membuat Raja Asa sadar dan bertobat. Sebaliknya, Raja Asa menolak teguran firman Tuhan dan justru memutuskan untuk memenjarakan Hanani. Sampai saat kematiannya, Raja Asa tetap berkeras hati dan tidak mau mencari Tuhan.
Sikap Raja Asa berbeda dengan sikap anaknya (Raja Yosafat) yang menggantikannya menjadi raja. Raja Yosafat hidup mencari Tuhan. Ia menuruti perintah Tuhan dan tidak mau menyembah Baal. Tuhan berkenan terhadap Raja Yosafat, sehingga Ia mengokohkan kerajaannya (17:12 semakin lama menjadi semakin kuat), bahkan Tuhan membuat hati para raja di sekitar kerajaan Yehuda menjadi gentar, sehingga mereka tidak berani berperang melawan Raja Yosafat. Tuhan menyertai dan berkenan terhadap Raja Yosafat.
Kisah Raja Asa dan Raja Yosafat menunjukkan kontras antara orang yang tidak memiliki komitmen atau tekad untuk menaati kehendak Allah dan orang yang telah bertekad atau berkomitmen untuk menaati kehendak Allah. Raja Asa tidak memiliki komitmen untuk taat, sehingga Allah murka dan memberi hukuman. Sebaliknya, Raja Yosafat memiliki komitmen untuk taat, sehingga Allah mengasihi dan memberkati. Tindakan dan sikap Allah tetap sama sampai saat ini! Periksalah diri Anda: Apakah Anda telah bertekad untuk menaati kehendak Allah sampai akhir hidup Anda? Sebagai anak-anak Allah yang telah memperoleh anugerah keselamatan, apakah kehidupan Anda terus-menerus mengalami pembaruan sehingga Anda tetap hidup dalam ketaatan terhadap kehendak Allah dan memuliakan Allah melalui hidup Anda?