Yosia adalah anak Raja Amon. Raja Amon adalah raja yang jahat di mata TUHAN (33:21), tetapi Yosia tidak mengikuti kelakuan ayahnya yang jahat. Selama memerintah sebagai raja, Yosia melakukan hal yang baik. Dia menyelenggarakan lagi perayaan Paskah bagi TUHAN. Perayaan Paskah ini bukan perayaan biasa, tetapi perayaan yang agung, yang tidak pernah dirayakan lagi sejak masa Nabi Samuel. Paskah ini dirayakan oleh para imam, orang Lewi, seluruh orang Yehuda dan Israel, termasuk penduduk Yerusalem (35:18). Perayaan Paskah ini dipersiapkan dengan sangat baik, mulai dari kurban yang dijadikan persembahan. Setiap penduduk akan mendapat bagian dari kurban yang diberikan oleh Raja Yosia dan para pemimpin Yehuda. Pelayan ibadah dari bani Asaf juga disiapkan untuk fokus melayani dalam ibadah Paskah dan Hari Raya Roti Tidak Beragi yang diselenggarakan selama tujuh hari (35:15-17). Jelas terlihat bahwa Raja Yosia adalah raja yang taat melakukan perintah yang telah Tuhan perintahkan untuk dilakukan oleh nenek moyang bangsa Israel.
Sayangnya, Raja Yosia memiliki kelemahan. Dia kurang peka terhadap perintah TUHAN yang disampaikan melalui Nekho, raja Mesir (35:20-24). Nekho memberi tahu bahwa kedatangannya bukan untuk berperang melawan Yosia dan kerajaan Yehuda, sesuai dengan perintah yang diterima Raja Nekho dari TUHAN (35:21). Alkitab tidak memberi tahu kapan dan bagaimana cara TUHAN memberi perintah kepada Raja Nekho. Akan tetapi, perkataan Raja Nekho kepada Raja Yosia memperlihatkan bahwa Raja Nekho bukan datang untuk berperang dengan kerajaan Yehuda. Sayangnya, Raja Yosia tidak peka terhadap maksud Tuhan. Raja Yosia menyamar karena Dia ingin tetap berperang melawan pasukan Mesir yang dipimpin oleh Raja Nekho. Akhirnya, Raja Yosia gugur dalam peperangan. Sayang bahwa ketaatan Raja Yosia untuk melaksanakan perayaan Paskah bagi Tuhan tidak diikuti oleh kepekaan terhadap peringatan TUHAN. Hal ini terjadi karena Raja Yosia tidak mencari kehendak TUHAN lagi.
Sebagai anak-anak Allah, kita dipanggil dan terus diingatkan untuk taat, termasuk taat beribadah, taat membaca firman Tuhan, dan taat melayani Tuhan. Akan tetapi, dalam ketaatan kita, apakah kita masih memiliki kepekaan untuk mendengarkan suara dan kehendak TUHAN? Apakah Anda masih memiliki kepekaan untuk mengenali kehendak TUHAN? Bila Anda tidak mencari kehendak TUHAN, Anda akan mudah salah langkah dalam kehidupan Anda. Kiranya Tuhan yang menyelamatkan kita terus membuat kita memiliki kepekaan terhadap kehendak-Nya!