Di tengah bangsa yang TUHAN sebut sebagai "kaum pemberontak," Yehezkiel menerima panggilan yang tegas, "Janganlah engkau memberontak seperti mereka" (2:8). Masalah utama Israel bukan sekadar kelemahan moral, tetapi hati yang menolak firman Allah. Muncul ketegangan dalam panggilan itu karena Yehezkiel diutus kepada umat yang keras hati dan tidak mau mendengar, tetapi ia tetap harus setia. Yehezkiel dipanggil untuk tetap berbicara, "baik mereka mau mendengar atau tidak" (2:7). Di sini terlihat prinsip penting bahwa firman TUHAN bukan untuk menyenangkan telinga, tetapi untuk mengubah hati. Tugas seorang nabi adalah menyampaikan firman dengan setia, bukan memastikan respons orang lain. Kadang-kadang, kita takut menyampaikan kebenaran karena khawatir ditolak. Nabi Yehezkiel mengingatkan bahwa kesetiaan lebih penting daripada keberhasilan. Pelayanan tidak diukur dari respons manusia, tetapi dari ketaatan terhadap firman Allah.
Di tengah panggilan, Yehezkiel diperintahkan untuk "memakan gulungan kitab" (3:1–3). Ternyata, ketika dimakan, gulungan yang berisi pesan penghakiman, ratapan, keluhan, dan rintihan itu terasa manis seperti madu. Gambaran ini berarti bahwa firman TUHAN harus lebih dahulu masuk ke dalam hidup sang nabi, meresap, membentuk, bahkan menghancurkan hatinya, sebelum keluar melalui mulutnya. Pelayan Tuhan tidak boleh hanya menjadi "penyampai pesan", tetapi harus menjadi orang yang lebih dahulu ditaklukkan oleh firman. Gulungan firman yang terasa manis menunjukkan bahwa bagi orang yang mengenal TUHAN, firman penghakiman pun tetap indah, karena firman itu berasal dari Allah yang benar dan kudus. Di dalam firman penghakiman, Allah tetap berbicara dan berkarya bagi umat-Nya. Tetap ada sukacita dalam ketaatan, meskipun tugas yang diberikan berat. Nabi Yehezkiel dipanggil untuk menjadi "penjaga" (3:17) yang mengingatkan umat tentang bahaya dosa dan penghakiman yang akan datang. Jika gagal memberi peringatan, ia akan dimintai pertanggungjawaban Tanggung jawab ini serius, karena diam berarti bersalah, berbicara berarti setia.
Bacaan Alkitab hari ini menantang kita untuk merenungkan apakah kita hanya mendengar firman Tuhan atau sungguh-sungguh "memakannya". Apakah Anda hidup tunduk kepada firman Tuhan atau hati Anda diam-diam sedang memberontak seperti bangsa Israel? Dalam dunia yang sering menolak kebenaran, kita bukan dipanggil untuk menyesuaikan diri, tetapi untuk tetap setia. Apakah Anda telah sungguh-sungguh membiarkan firman Tuhan membentuk hidup Anda, atau Anda hanya menyampaikan tanpa menaatinya? Bila kebenaran firman Tuhan tidak populer, apakah Anda tetap setia memberitakannya?