Ada seorang pria yang tinggal di dekat rel kereta api. Mula-mula, setiap kali ada kereta yang lewat, ia selalu terbangun karena suara kereta sangat keras. Setelah beberapa minggu, ia mulai terbiasa, dan suara kereta sudah tidak mengganggu tidurnya. Suatu malam, gas di rumahnya bocor. Para tetangga berusaha membangunkannya dengan memukul pintu dan berteriak memanggil namanya, tetapi ia tidak terbangun. Ia sudah terlalu terbiasa mengabaikan suara keras, sehingga saat bahaya datang, ia tidak merasa perlu untuk terbangun. Begitulah kondisi hati manusia. Bila kita mengabaikan suara hati nurani, peringatan dan teguran firman TUHAN, serta bisikan atau dorongan Roh Kudus, hati kita akan menjadi kebal dan kehilangan kepekaan. Bacaan Alkitab hari ini adalah guncangan keras Allah untuk membangunkan umat-Nya yang telah "mati rasa". Mereka larut dalam kebiasaan rohani yang mematikan: punya mata, tetapi tidak melihat; punya telinga, tetapi tidak mendengar. Masalah mereka bukan kekurangan firman Allah, tetapi hati yang menolak untuk merespons. Oleh karena itu, TUHAN memerintahkan Yehezkiel untuk melakukan tindakan simbolis, yaitu berkemas seperti orang buangan, menggali tembok, dan keluar pada malam hari (12:3-6). Inilah "drama profetik" yang memperlihatkan bahwa pembuangan itu nyata dan segera. Umat Allah yang hidup dalam ilusi terus berkata, "Penglihatan dan nubuat itu untuk masa yang masih jauh dan lama" (12:27). Akan tetapi, TUHAN menegaskan bahwa tidak ada lagi penundaan. Apa yang difirmankan-Nya akan segera terjadi.
Ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan: Pertama, istilah "kaum pemberontak" menyoroti sikap keras kepala yang aktif menolak Allah. Kedua, kata "melihat" dan "mendengar" menunjuk pada respons iman. Melihat berarti memahami, dan mendengar berarti taat. Namun, umat TUHAN menolak untuk memahami maupun menaati firman-Nya. Menunda untuk bertobat adalah ekspresi ketidakpercayaan kepada Allah. Ketiga, "tidak ditunda-tunda" (12:25, 28) berarti TUHAN tidak akan menarik ulur firman-Nya. Ia akan segera melaksanakan apa yang dikatakan-Nya. Sekalipun Israel keras kepala, Allah masih berbicara, memperingatkan, dan mengundang mereka untuk kembali. Kehadiran Nabi Yehezkiel di tengah umat buangan adalah tanda bahwa Allah belum menyerah. Mereka dibuang karena dosa mereka, tetapi Ia tetap menyertai dan berbicara kepada mereka melalui firman-Nya. Apakah hati Anda masih peka terhadap suara TUHAN atau Anda mengabaikannya sehingga menjadi mati rasa? Apakah ada kebenaran firman Allah yang sudah sering Anda dengar, tetapi tidak Anda taati? Jangan menunda sampai hati Anda tidak mampu merespons lagi!