Seorang pendaki gunung pernah bercerita bahwa suatu saat ia tersesat di tengah kabut tebal, ia mendengar suara samar dari kejauhan seperti ada yang memanggil dan menunjukkan arah. Dengan penuh harapan, ia mengikuti suara itu. Ternyata, ia hampir melangkah ke tepi jurang. Untungnya, kabut menipis sehingga ia melihat bahaya di depannya sebelum terlambat. Belakangan, ia sadar bahwa suara itu hanya gema dari lembah yang terdengar seolah-olah memberi petunjuk. Bacaan Alkitab hari ini menyingkapkan krisis serius, yaitu adanya suara yang terdengar rohani, tetapi tidak berasal dari Allah. Para nabi palsu berkata, "Demikianlah firman TUHAN", padahal Allah tidak berbicara kepada mereka (13:6–7). Masalahnya adalah sumber pesan mereka. Mereka mengikuti "roh mereka sendiri", bukan Roh Allah. Mereka menyampaikan pesan yang lahir dari pikiran sendiri, dari keinginan untuk diterima dan disukai orang. Mereka mencari kenyamanan, popularitas, dan ketenangan yang semu, bukan kebenaran. Praktik para nabi palsu ini adalah pengkhianatan terhadap otoritas ilahi. Mereka mengklaim berbicara atas nama Allah tanpa dasar wahyu. Penglihatan yang mereka lihat hanya tipuan dan tenungan mereka adalah kebohongan. Mereka menggantikan firman TUHAN dengan imajinasi religius yang terasa meyakinkan, tetapi sebenarnya hampa. Bahkan, para nabiah palsu membuat ‘tali-tali jimat’ (13:18–21), yaitu praktik rohani yang menyesatkan untuk mencari rasa aman dengan cara sendiri. Semua ini memperlihatkan praktik dosa yang mengganti kebenaran Allah dengan narasi yang hanya menyenangkan manusia.
Pada akhirnya, TUHAN sendiri akan melawan dan menentang para nabi palsu! Allah akan membongkar kebohongan mereka, menghentikan pengaruh mereka atas umat yang dikasihi-Nya, serta menyatakan kebenaran-Nya sebagai satu-satunya suara yang sah. Allah tidak bersifat netral terhadap kepalsuan rohani. Ia aktif menentang, membongkar, dan menghakimi setiap suara yang memakai nama-Nya, tetapi tidak berasal dari Dia. Inilah peringatan bagi kita, yaitu bahwa berbicara atas nama Allah bukan hal yang ringan. Memakai nama Allah untuk kepentingan sendiri bukan hanya menyesatkan orang lain, tetapi juga menempatkan diri sendiri berhadapan langsung dengan Allah. Tanyakanlah kepada diri Anda sendiri, "Suara siapa yang Anda dengar?" Sumber suara akan menentukan arah hidup Anda. Di tengah banyaknya "pesan rohani", bahaya terbesar bukanlah kurangnya suara, tetapi terlalu banyak suara yang tidak berasal dari Tuhan. Selain soal mendengar, cara menyampaikan firman Allah juga harus diuji: Apakah Anda setia pada kebenaran atau Anda melakukan kompromi demi menyenangkan orang? Ujilah setiap suara yang Anda dengar dan setiap kata yang Anda ucapkan!