Allah memerintahkan Nabi Yehezkiel untuk meratapi datangnya "hari TUHAN" atas Mesir, yaitu hari intervensi Allah dalam sejarah untuk membawa penghakiman-Nya. Dalam konteksnya, ini adalah pernyataan yang sangat berani. Bayangkan bahwa seorang nabi dari bangsa kecil yang sedang terbuang dan tidak berpengaruh menyatakan bahwa Allahnya akan menjatuhkan Mesir, sebuah peradaban besar yang telah berdiri ribuan tahun. Pernyataan ini bisa dianggap kegilaan atau iman yang besar! Pernyataan "Hari TUHAN " (30:1-3) di sini sangat penting, karena "Hari TUHAN" biasanya dipakai untuk Israel; tetapi di sini diterapkan pada Mesir dan bangsa-bangsa. "Hari TUHAN" di sini bukan hanya menunjuk pada akhir zaman, tetapi pada momen konkret ketika Allah bertindak dalam sejarah untuk merendahkan kejahatan dan menyatakan kemuliaan-Nya (seperti jatuhnya Mesir). Hal ini menegaskan bahwa TUHAN bukan hanya Allah atas Israel, tetapi juga Allah atas seluruh dunia. Mesir bukan hanya sebuah bangsa, tetapi pusat kekuatan bagi banyak bangsa. Sekutunya—Etiopia, Put, Lud, seluruh tanah Arab, Libia, dan bangsa-bangsa lainnya—menunjukkan bahwa Mesir adalah pusat koalisi kekuatan internasional. Namun, TUHAN menegaskan bahwa pedang akan datang, di mana Mesir beserta semua jaringan kekuatannya akan runtuh (30:4-9). Akhirnya, tidak ada keamanan sejati dalam aliansi manusia. Mesir dan semua sekutunya akan jatuh. Semua individu, sistem dunia, atau jaringan kekuatan yang melawan Allah akan ditundukkan.
Selanjutnya, Yehezkiel menyebutkan banyak kota utama Mesir—Migdol, Siene, Memfis, Patros, Soan, Tebe, Sin, On, Pi-Beset, Tahpanhes—untuk menunjukkan luasnya kehancuran yang menimpa pusat-pusat kekuatan dan kejayaan bangsa itu. Namun, penghakiman Allah tidak hanya menyentuh aspek politik, tetapi juga teologis. TUHAN menegaskan bahwa Ia akan membinasakan berhala-berhala Mesir. Hal ini menunjukkan bahwa Allah menyerang sampai ke akar persoalan, bukan hanya struktur lahiriah, tetapi juga sistem kepercayaan yang menopangnya. Penghakiman Allah bersifat menyeluruh. Secara politik, kota-kota mereka runtuh, dan secara spiritual, berhala-berhala mereka dihancurkan. Dengan demikian, Allah meruntuhkan sumber keamanan dan penyembahan di luar Dia. Klimaksnya adalah saat TUHAN mematahkan kedua lengan Firaun, simbol kekuatan yang menjadi lumpuh total. Sementara, Ia justru menguatkan tangan raja Babel sebagai alat-Nya. Kontras ini menunjukkan bahwa segala kekuatan ada di bawah kendali TUHAN. Apa yang Ia kehendaki tidak dapat digagalkan, dan perlawanan terhadap Dia tidak akan berhasil. Apakah dalam hidup saya yang akan diruntuhkan jika "Hari TUHAN" itu datang kepada saya hari ini?