TUHAN membawa Yehezkiel ke sebuah lembah yang penuh tulang. Tulang-tulang itu sangat banyak dan sangat kering, menunjukkan kematian yang sudah lama terjadi. Dalam budaya saat itu, tulang yang tergeletak tanpa dikubur adalah tanda kehinaan besar, lambang kondisi Israel yang mengalami "kematian", kehancuran total, kehilangan harapan, dan masa depan yang suram. Inilah gambaran umat Allah yang berkata, "Pengharapan kami sudah lenyap, putuslah hidup kami" (37:11). Namun, Allah bekerja di titik yang paling putus asa itu. TUHAN memerintahkan Yehezkiel untuk bernubuat kepada tulang-tulang itu. Tindakan ini adalah sesuatu yang tampak tidak masuk akal dan bodoh secara logika. Namun, saat nubuat disampaikan, sesuatu yang mustahil terjadi: Tulang-tulang tersusun, urat-urat, daging dan kulit tumbuh menutupinya. Ketika nafas hidup diperintahkan masuk ke dalam diri mereka, tulang-tulang kering itu pun hidup kembali sebagai bala tentara yang sangat besar (37:7-10). Penglihatan ini menjelaskan keadaan Israel di pembuangan. Mereka merasa seperti "tulang-tulang kering" tanpa masa depan. Tanah dan Bait Suci hilang, identitas mereka runtuh, rohani mereka mati. Namun Allah berjanji bahwa Ia akan memulihkan mereka, membawa mereka kembali ke tanah mereka, dan memberikan Roh-Nya yang menghidupkan. Hal ini bukan sekadar pemulihan nasional, tetapi kebangunan rohani. Allah sanggup menghidupkan kembali apa yang sudah dianggap mati. Umat yang sebelumnya mati total dan tanpa pengharapan akan menjadi umat yang hidup dan siap dipakai Tuhan. Bagian selanjutnya, yaitu tentang dua kayu yang menjadi satu, menegaskan pemulihan kesatuan. Kerajaan yang terpecah—Israel dan Yehuda—akan dipersatukan di bawah satu raja dari garis keturunan Daud. Hal ini digenapi di dalam Kristus sebagai Raja dan Gembala yang mempersatukan umat-Nya. Pemulihan Allah menghidupkan yang mati serta menyatukan yang terpecah. Kesatuan ini menjadi restorasi identitas umat Allah, yaitu relasi perjanjian yang dipulihkan antara Allah dan umat-Nya, supaya bangsa-bangsa mengetahui bahwa TUHAN-lah Allah (37:26-28).
Di tengah dunia yang sering membuat kita kehilangan harapan dan identitas, Allah mengingatkan bahwa kita adalah milik-Nya. Ia akan memulihkan kita, sehingga hidup yang dipulihkan dan dibangkitkan harus menjadi kesaksian nyata tentang siapa Allah. Adakah area dalam hidup Anda yang sudah "kering" dan Anda anggap mustahil dipulihkan? Adakah konflik dalam hati atau relasi yang perlu dipulihkan? Maukah Anda membuka diri bagi firman dan Roh Allah, sehingga hidup Anda pulih kembali dan bukan sekadar hidup, tetapi hidup bagi kemuliaan Allah?