Saat ini, hidup kita banyak dipengaruhi—atau disetir—oleh pendapat populer, baik oleh informasi yang sedang populer, psikologi humanis, maupun kutipan pendapat tokoh tertentu yang kita dapatkan dari hasil berselancar di media sosial. Sadarkah Anda bahwa sedikit banyak, informasi yang kita terima mempengaruhi cara berpikir: cara mengambil keputusan, cara merespons, cara menjalani kehidupan, cara menilai yang baik dan yang salah, bahkan mempengaruhi tujuan hidup Anda? Sebagai orang percaya, seharusnya yang paling mempengaruhi hidup kita adalah kebenaran firman Tuhan!
Ezra bukan hanya dikenal sebagai seorang ahli kitab—orang yang mahir dalam Taurat Musa—di antara bangsanya sendiri, tetapi juga dikenal oleh raja bangsa lain, yaitu Raja Artahsasta (7:11-12). Terdapat kesan bahwa Ezra bukan hanya seorang akademisi yang sekadar teoritis, tetapi seorang praktisi Taurat yang rendah hati. Perhatikan penghargaan Ezra kepada TUHAN Allah melalui pengakuan terhadap perlindungan Allah yang diulang sampai empat kali (7:6,9,27,28b). Bagi Ezra, Taurat bukan hanya untuk dipelajari, tetapi juga untuk dipraktikkan dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari (7:10). Karena Taurat, kehidupan pribadi Ezra menjadi seperti pelita yang memancarkan terang yang tidak mungkin tidak kelihatan (lih. Mat. 5:14-16). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kemudian Raja Artahsasta memercayai dan memerintahkan Ezra untuk mengadakan penyelidikan mengenai Yehuda dan Yerusalem dengan berpedoman pada hukum Allahnya yang menjadi pegangannya (Ezra 7:14), memakai persembahan berdasarkan apa yang dianggap baik olehnya sesuai dengan kehendak Allah (7:18), dan mengangkat pemimpin-pemimpin dan hakim-hakim sesuai dengan hikmat Allah yang menjadi pegangannya (7:25). Seorang raja asing pun dapat melihat sentralitas peran firman TUHAN dalam kehidupan Ezra.
Kita memang tidak seperti Ezra, seorang yang ahli dalam Taurat. Walaupun kita tidak masuk ke sekolah teologi untuk belajar Alkitab, sangat tidak pantas jika kita menjadikan hal itu sebagai alasan untuk tidak menuntut diri dalam membaca, mempelajari, dan melakukan firman Tuhan. Selain itu, kita hidup di zaman yang menyediakan apa pun yang kita perlukan untuk dapat mempelajari firman Tuhan. Teknologi telah memungkinkan kita memiliki akses ke berbagai sumber untuk lebih dalam mengenal firman Tuhan. Biarkanlah firman Tuhan meresap dalam hidup Anda! Apakah firman Tuhan sudah mengambil alih cara berpikir kita, cara kita mengambil keputusan, cara kita menentukan apa yang baik dan benar, serta memimpin arah dan tujuan hidup kita?