Kitab Nehemia dimulai dengan penjelasan tentang waktu, lokasi, dan tokoh yang membuktikan bahwa peristiwa yang diceritakan merupakan sebuah kisah nyata. Pesan utama kitab ini adalah kesetiaan Allah dalam memelihara umat-Nya. Meskipun sedang menghukum umat Israel karena ketidaktaatan mereka, Allah tetap mengingat janji setia-Nya kepada bangsa Israel dengan menolong mereka membangun kembali tembok Yerusalem dan mengalami pembaharuan iman. Allah memilih Nehemia untuk memimpin pembangunan ini. Dengan pertolongan Allah, Nehemia berhasil menyelesaikan pembangunan tembok dalam waktu 52 hari, suatu pencapaian yang mustahil jika hanya mengandalkan manusia.
Kitab Nehemia mengajarkan beberapa prinsip bagi pelayanan masa kini. Pertama, dibutuhkan kesehatian untuk membangun sebuah pelayanan. Sekilas, kitab ini berisi keberhasilan Nehemia. Namun, jika dipelajari lebih teliti, kitab ini berisi kisah kesehatian sebuah bangsa dalam membangun kembali harga diri dan kehidupan rohani mereka. Nehemia memang memainkan peran penting dalam proyek ini. Ia memiliki visi pembangunan dan mampu mewujudkan visi tersebut. Namun, tanpa rakyat yang bersatu, mustahil ia dapat menyelesaikan proyek yang besar ini. Rakyat tidak hanya bekerja sama, tetapi mereka juga rela mengorbankan banyak hal untuk pembangunan ini. Sebagai refleksi: adakah kesehatian di Gereja Anda? Usaha apa yang dijalankan untuk mencapai kesehatian itu? Kedua, doa adalah kekuatan utama dari pelayanan. Selain mencatat usaha Nehemia dan penduduk Yerusalem, kitab ini dipenuhi dengan catatan doa, baik oleh Nehemia secara pribadi maupun oleh penduduk Yerusalem. Pembangunan ini adalah proyek yang sangat sulit. Mereka menghadapi musuh dari luar yang menentang pembangunan ini dan musuh dari dalam berupa kondisi mental yang lemah dan kekuatan fisik yang terbatas. Di tengah kemustahilan, mereka menyelesaikan pembangunan dengan cepat. Rahasianya terletak pada doa. Sebagai refleksi: apakah Gereja Anda mementingkan doa dalam pelayanan? Ketiga, tujuan akhir dari pembangunan adalah kebangunan rohani. Setelah pembangunan selesai, bangsa Israel membaca Taurat, merayakan Hari Raya Pondok Daun, dan bertobat dari pola kehidupan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Mereka tidak hanya bersukacita karena terjadi pembangunan fisik, tetapi yang lebih penting adalah terjadinya kebangunan rohani di antara umat Israel. Sebagai refleksi: apakah pelayanan Gereja Anda selama ini membawa transformasi bagi kehidupan jemaat? Selamat membaca! [Pdt. Timotius Fu]
Saat mendengar kabar bahwa seseorang sedang menghadapi kesulitan besar, bagaimana respons Anda? Respons Anda akan tergantung dari kedekatan Anda dengan orang itu. Makin dekat hubungan Anda dengan dia, makin besar usaha dan kesungguhan Anda dalam menolong. Itulah yang kita baca dalam bacaan Alkitab hari ini. Nehemia mendengar kabar bahwa bangsanya bukan hanya menghadapi kesulitan besar, tetapi juga hidup secara tercela. Kabar itu membuat hati Nehemia sangat sedih dan galau, meskipun saat itu, ia hidup secara nyaman dan mapan sebagai juru minuman raja. Nehemia menunjukkan kepeduliannya dengan menangis, berkabung, berpuasa, dan berdoa selama beberapa hari.
Sikap dan kepedulian Nehemia memberi dua pelajaran terkait dengan sikap orang percaya terhadap kehidupan bergereja masa kini: Pertama, Nehemia adalah pendoa syafaat. Respons Nehemia yang langsung berdoa membuktikan bahwa ia adalah orang yang suka berdoa. Hasil kehidupan doanya adalah kepedulian yang tinggi kepada bangsanya. Kepedulian terhadap kondisi gereja dan keadaan sesama orang percaya tergantung pada kehidupan doa. Makin sering seseorang mendoakan gereja dan sesama, makin tinggi kepeduliannya, dan sebaliknya. Kedua, Nehemia membangun kehidupan doanya di atas kasih karunia dan keadilan Allah. Dalam doanya, Nehemia mengakui dosa bangsa Israel yang membuat mereka mengalami penderitaan dan tercela karena dihukum Allah. Nehemia memohon Allah mengampuni dan memulihkan umat-Nya, sesuai dengan janji setia-Nya kepada nenek moyang bangsa Israel. Isi doa Nehemia menunjukkan bahwa jatuh bangun sebuah bangsa tergantung dari kedekatan hubungan yang tercermin dari kesediaan mendengar dan menaati perintah Allah.
Kisah di atas mengingatkan bahwa gereja perlu lebih banyak berdoa. Saat ini, banyak gereja bergumul karena kekurangan pelayan. Banyak anggota jemaat kurang peduli terhadap pelayanan di gereja dan kehidupan sesama. Di balik fenomena ini tersimpan sebuah kenyataan bahwa gereja masa kini kurang berdoa. Banyak gereja terjebak pada kesibukan menjalankan program sehingga melalaikan kehidupan doa. Oleh karena itu, gereja perlu mengajarkan pentingnya berdoa. Gereja juga harus menggerakkan anggota jemaat untuk berdoa, mulai dari para pemimpin yang memberi teladan dalam hal kehidupan doa yang baik. Doa yang tekun akan membangkitkan rasa peduli kepada pelayanan gereja dan menolong gereja memiliki arah pelayanan yang jelas sesuai dengan kehendak Allah. Apakah Anda memiliki kehidupan doa yang baik? Apakah Gereja Anda mengutamakan doa atau justru terjebak dalam kesibukan pelayanan tanpa doa? [Pdt. Timotius Fu]