Ester: Providensia Allah yang Setia
Kitab Ester adalah kitab yang unik: tidak ada doa yang dipanjatkan, tidak ada mukjizat yang dicatat, tidak ada nabi yang menyampaikan firman Allah, bahkan nama Allah pun tidak pernah disebut. Kitab ini ditulis bukan sekadar untuk menjelaskan asal usul Hari Raya Purim, melainkan untuk menjawab pergumulan umat Yahudi di perantauan yang jauh dari Yerusalem, tanpa Bait Allah, dan yang bergumul dengan pertanyaan apakah mereka masih umat Allah yang terikat perjanjian dengan-Nya.
Latar kitab Ester adalah istana Raja Ahasweros atau Xerxes (486–465 SM) di Susan. Alur ceritanya penuh pembalikan (peripety): Ratu Wasti tersingkir dan Ester menjadi ratu (pasal 1-2); Haman merancang pemusnahan orang Yahudi (pasal 3); Ester memberanikan diri menghadap raja dengan risiko nyawa (pasal 4); dua jamuan membalikkan keadaan (pasal 5-6); Haman jatuh ke jeratnya sendiri (pasal 7-8); Purim dirayakan (pasal 9-10). Jalan buntu berbalik menjadi jalan keluar.
Kitab Ester mengingatkan bahwa Allah bekerja, tetapi cara kerja-Nya tidak selalu kita mengerti. Providensia atau pemeliharaan Allah sering hadir lewat hal-hal kecil yang tampak biasa--seperti pesta, keadaan tidak bisa tidur, serta berbagai kebetulan kecil--yang baru kita sadari maknanya setelah hal-hal itu berlalu. Saat kegetiran hidup membuat kita merasa bahwa Allah tidak peduli, ingatlah bahwa Dia sedang berkarya di setiap aspek hidup kita tanpa kita sadari, sebagaimana dinyatakan dalam Roma 8:28. Providensia Allah tidak dilandasi oleh kebaikan kita atau kelayakan moral kita, melainkan berlandaskan pada integritas dan kesetiaan Allah terhadap perjanjian-Nya yang sudah diikrarkan sejak Ia memanggil Abraham. Kesetiaan Allah pada perjanjian dengan Abraham itulah yang akhirnya digenapi dalam Kristus, sebab "jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya" (2 Timotius 2:13). Ester dan Mordekhai bukan sosok tanpa cela. Providensia Allah terhadap Ester dan Mordekhai tidak bergantung pada kelayakan mereka. Anugerah keselamatan bagi diri kita pun tidak bergantung pada kelayakan kita. Kita adalah manusia yang telah jatuh dalam dosa dan kita hidup di dunia yang telah dirusak oleh dosa. Akan tetapi, Allah tetap merajut karya providensia-Nya: Ketika genap waktunya, Allah mengutus Yesus Kristus ke dalam dunia (Galatia 4:4) dan Kristus telah mati bagi kita ketika kita masih berdosa (Roma 5:8). Semoga Roh Kudus menolong kita untuk memahami kisah pemeliharaan Allah terhadap umat-Nya dalam kitab Ester, serta menumbuhkan keyakinan bahwa Allah tetap bekerja memelihara umat-Nya sampai saat ini. [GI Astuti Fang]
Kekuasaan yang Rapuh
Kamis, 10 September 2026
Bacaan Alkitab hari ini:
Ester 1
Raja Ahasweros menggelar pesta seratus delapan puluh hari bagi para pejabat dan panglimanya (1:1–4). Pesta ini bukan sekadar syukuran. Menurut catatan sejarah, masa ini berimpitan dengan persiapan invasi besar ke Yunani, sehingga banyak penafsir -- termasuk Karen Jobes -- membaca pesta ini sebagai kalkulasi politik: Raja membeli loyalitas lewat kemewahan sebelum mengirim pasukannya ke medan perang. Kemurahan hati yang tampak di permukaan sebenarnya merupakan sebuah transaksi kekuasaan.
Logika kepemilikan merambat sampai ke ruang paling pribadi. Penamaan tempat pesta Ratu Wasti berlangsung sebagai "istana Raja Ahasweros" (1:9) menunjukkan adanya cap kepemilikan suami. Pada hari ketujuh, saat sedang mabuk, Raja Ahasweros memerintahkan agar Wasti dihadirkan dengan bermahkota untuk dipamerkan kepada orang banyak (1:10–11), bukan sebagai istri pendamping suami, tetapi sebagai trofi hidup untuk dibanggakan dan melengkapi pameran kekayaan sang raja. Namun, Wasti menolak (1:12). Wasti tidak mau diperlakukan sebagai benda! Bagi para pejabat Media Persia, penolakan Wasti itu merupakan suatu ironi: Raja adikuasa yang telah menaklukkan banyak bangsa ternyata tidak ditaati oleh istrinya sendiri! Para penasihat raja membaca penolakan itu sebagai ancaman bagi seluruh kerajaan (1:17). Posisi Wasti sebagai ratu dicopot tanpa kesempatan membela diri. Pencopotan posisi ratu itu bukan demi keadilan, melainkan demi menjaga rasa aman penguasa (1:19–22). Sistem yang tampak megah di permukaan, ternyata rapuh dan berbahaya bagi siapa saja yang berada di dalamnya.
Ahasweros dan Wasti bertindak berdasarkan motif duniawi, bukan berdasarkan iman. Apa pun alasan di balik penolakan Wasti--yang sengaja tidak dijelaskan oleh penulis kitab--Allah berkarya dalam senyap untuk menyiapkan jalan bagi masa depan Ester (bandingkan dengan Roma 8:28). Providensia Allah tidak ditentukan oleh manusia. Allah berdaulat penuh dalam setiap keadaan, termasuk dalam situasi yang rumit. Kisah ini adalah cermin bagi para pemegang kuasa dalam takaran masing-masing, baik bagi orang tua, atasan, atau pemimpin. Tanpa penyerahan diri, otoritas kita mudah berakar pada ego yang rapuh. Di sepanjang masa, banyak orang memimpin dengan delusi bahwa dirinya adalah pusat segala sesuatu. Bila Anda memiliki kekuasaan, tanyakanlah kepada diri Anda sendiri, "Bagaimana cara Anda memakai kekuasaan yang Anda miliki?" Markus 10:45 dan Filipi 2:5-11 menuntun kita pada cara memimpin dengan meneladani Kristus yaitu memimpin dengan hati yang melayani, mengenakan kerendahan hati, dan tidak memakai kekuasaan untuk berlaku sewenang-wenang!