Bacaan Alkitab hari ini terasa menegangkan. Kita menahan napas menanti keputusan Ester di tengah ancaman pemusnahan terhadap orang Yahudi. Melalui Mordekhai, Ester dihadapkan pada kenyataan bahwa kedudukannya sebagai ratu tidak menjamin keselamatannya. Jika ia memilih diam, maut tetap akan menjemputnya. Namun, Mordekhai menyatakan keyakinan yang radikal bahwa pertolongan dan kelepasan bagi umat pilihan pasti akan muncul, bahkan jika harus datang "dari pihak lain". Lalu, Mordekhai mengemukakan perkataan yang memaksa Ester berpikir, "Siapa tahu, justru untuk saat seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu." (4:14). Di titik inilah, Ester harus bergumul dengan identitas gandanya, yaitu sebagai orang Yahudi bernama Hadasa dan sebagai ratu Persia bernama Ester. Ester menyadari bahwa kedudukannya bukan untuk kenyamanan pribadi, melainkan untuk sesuatu yang lebih besar, yaitu untuk bangsanya. Perhatikan bahwa sepanjang kitab ini, nama Allah tidak disebut. Akan tetapi, perkataan Mordekhai --bahwa pertolongan "akan timbul juga dari pihak lain" -- menyiratkan keyakinan bahwa nasib orang Yahudi tidak sepenuhnya di tangan Ester. Pembaca dibiarkan menyimpulkan sendiri siapa yang dimaksud, dan jawabannya tentu saja adalah Allah.?
Benteng Susan bukan tempat yang ramah. Hukum Kerajaan Persia menyatakan bahwa siapa pun yang menghadap raja tanpa dipanggil dapat dihukum mati, kecuali raja mengulurkan tongkat emasnya. Saat itu, sudah tiga puluh hari Ester tidak dipanggil menghadap raja. Responsnya kepada Mordekhai bukan ungkapan ketidakpedulian, tetapi ketakutan terhadap risiko kematian (4:11). Di momen menentukan itu, Ester mengajak semua orang Yahudi di Susan untuk berpuasa penuh selama tiga hari. Ia menyadari risiko yang ia hadapi, "Kalau aku harus mati, biarlah aku mati" (4:16). Perempuan yang sebelumnya beradaptasi dengan Kerajaan Persia, kini melangkah menyelamatkan bangsanya.
Tidak semua orang dipanggil menjadi seperti Ester di istana raja. Akan tetapi, ada orang yang harus menghadapi pekerjaan berat, keluarga yang penuh pergumulan, atau pelayanan yang melampaui kemampuan, dan mungkin di sanalah Tuhan menaruh kita untuk maksud yang belum kita pahami. Saat kehadiran-Nya terasa samar dan nama-Nya seolah absen dalam hidup kita, mungkinkah kita -- sama seperti Ester -- sedang ditempatkan untuk saat seperti ini? Kisah Ester mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak berhenti bekerja hanya karena kita tidak mendengar suara-Nya. Apakah Anda bersedia untuk terus melangkah dalam ketaatan, sekalipun jalannya berisiko?