Ester 5-6

Waktu Tuhan

14 September 2026
GI Astuti Fang

Dalam bacaan Alkitab hari ini, Ester bukan lagi pribadi yang hanya mengikuti keadaan seperti di pasal 2. Setelah berpuasa tiga hari, ia mengambil risiko untuk menghadap raja walaupun tidak dipanggil (5:1). Saat raja mengulurkan tongkat emas (5:2), Ester tidak langsung menyampaikan permohonannya, tetapi ia mengundang raja dan Haman ke perjamuan (5:4), lalu menunda lagi sampai perjamuan berikutnya (5:8). Penundaan itu bukan sekadar strategi cerdik. Tanpa Ester sadari sepenuhnya, Allah menyiapkan waktu yang tepat. Sebaliknya, Haman makin dikuasai egonya. Kehormatan besar yang baru ia terima terasa tak berarti hanya karena Mordekhai tidak mau sujud kepadanya (5:9). Alih-alih meredakan amarahnya, Zeres--istri Haman--dan sahabat-sahabatnya malah mendukung dan mengusulkan untuk mendirikan tiang gantungan setinggi lima puluh hasta bagi Mordekhai (5:14). Haman menuruti saran itu dan tidak sadar bahwa dirinya sendiri yang akan digantung di tiang itu.

Titik balik tak terduga datang saat raja tidak dapat tidur. Malam itu, catatan sejarah kerajaan dibacakan dan ditemukan bahwa ternyata jasa Mordekhai belum pernah diberi penghargaan. Pada saat bersamaan, Haman datang membawa rencana pembunuhan terhadap Mordekhai. Karena mengira bahwa raja hendak memberi penghargaan kepada dirinya, Haman memberi usulan yang membuat dia terpaksa menuntun kuda untuk mengarak Mordekhai berkeliling lapangan kota sambil meneriakkan penghormatan. Di balik peristiwa itu, tangan Allah yang tak terlihat sedang bekerja. Akan tetapi, pembalikan yang sesungguhnya masih belum selesai. Pada perjamuan kedua, Ester akhirnya berbicara terus terang: Ia membongkar rencana Haman di hadapan raja. Di titik inilah keberanian yang ia bangun sejak awal--bukan hanya kesabaran menunda, tetapi ketepatan waktu untuk bersuara--membuahkan hasil. Tiang gantungan yang Haman siapkan bagi Mordekhai kini menanti dirinya sendiri.

Dalam kitab Ester, nama Allah tidak disebut untuk menyampaikan pesan bahwa untuk menolong umat-Nya, Allah sering bekerja dalam senyap pada waktu yang tepat. Ia tidak harus memamerkan mukjizat besar dan mengumumkan nama-Nya. Ia bisa memakai insomnia seorang raja, ketepatan waktu, sebuah buku sejarah, dan keberanian seorang perempuan yang bersuara pada saat yang tepat. Tugas kita bukan mendikte jadwal-Nya, tetapi menyelaraskan langkah kita dengan setia bersiap, mengendalikan ambisi, dan bertindak berani pada saat yang tepat. Sebaliknya, orang yang memaksakan waktunya sendiri untuk menjatuhkan orang lain akan mempercepat kejatuhannya sendiri. Bagaimana Anda bersikap saat doa Anda belum terjawab dan situasi terasa buntu? Latihlah kepekaan rohani Anda!

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design