Zakharia 1-2

Tinggalkan Dosa dan Kembali kepada-Nya

17 September 2026
Pdt. Immanuel Agus Handoko

Menyingkap Blind Spot Rohani

Diawali dengan seruan pertobatan, Kitab Zakharia memaparkan sikap TUHAN yang setia pada perjanjian-Nya dengan umat-Nya. Walaupun TUHAN telah mendidik dengan berbagai cara, umat-Nya tetap hidup dalam dosa nenek moyang mereka secara turun-temurun. Kitab Zakharia ditulis untuk umat yang dalam kondisi tercela. Status politik mereka lemah: Yehuda bukan lagi kerajaan independen, melainkan hanya sebuah distrik kecil yang miskin di dalam Satrapi (provinsi) Eber-Nari (wilayah Seberang Sungai Efrat). Mereka dipimpin oleh gubernur sipil yang ditunjuk Persia, yaitu Zerubabel, dan Imam Besar Yosua. Kota Yerusalem yang dihancurkan tentara Babel pada 586 SM masih berupa reruntuhan. Tembok kota hancur total dan puing-puing masih berserakan di mana-mana. Mereka mengalami depresi ekonomi serta spiritual, dan populasi yang kembali dari Babel sangat sedikit (sekitar 50.000 orang). Mereka mengalami gagal panen, inflasi, dan kemiskinan sistemis (bandingkan dengan Hagai 1:6). Tekanan ekonomi membuat umat mengalami guncangan spiritual. Mereka memprioritaskan pembangunan rumah mereka sendiri serta membiarkan fondasi Bait Suci terbengkalai dan ditumbuhi semak belukar. Orang-orang Samaria dan bangsa-bangsa di sekitar mereka berusaha mencegah bangkitnya kekuatan politik baru di wilayah itu dengan terus-menerus melakukan intimidasi politik dan fisik untuk menghentikan pembangunan kota Yerusalem. Hal itu sangat mengganggu dan mengguncang iman mereka. Mereka tidak sadar bahwa sebenarnya, dosa-dosa merekalah yang harus dibereskan lebih dahulu.

TUHAN--yang setia pada perjanjian-Nya--berinisiatif memanggil umat-Nya agar bertobat dan kembali kepada-Nya. Dia menjanjikan pemulihan yang akhirnya diwujudkan dalam diri Sang Mesias, Sang Raja dan Imam. Hal itu nyata dalam struktur penulisan Kitab Zakharia. Bagian pertama (pasal 1-8) ditulis pada saat pembangunan Bait Suci sedang berjalan (520–518 SM). Umat Israel dipanggil untuk bertobat, tetapi mereka tampak tidak menanggapi dengan serius, sehingga Tuhan menunjukkan dosa mereka secara gamblang. Bagian kedua (pasal 9-14), yang ditulis pada masa tua Zakharia, berfokus janji pemulihan pada masa depan--bukan ramalan-- yang akan digenapi dalam diri Sang Mesias. Keseluruhan berita dalam Kitab Zakharia sebenarnya mengajak umat Israel untuk menyadari keberdosaan mereka yang tidak mereka sadari (blind spot rohani), yaitu bahwa mereka sudah mengulangi dosa-dosa nenek moyang mereka yang mengabaikan Tuhan. Oleh sebab itu, Tuhan memanggil mereka untuk bertobat dan memusatkan iman dan hidup mereka kepada Sang Mesias. [Pdt. Immanuel Agus Handoko]

Tinggalkan Dosa dan Kembali kepada-Nya
Kamis, 17 September 2026

Bacaan Alkitab hari ini:
Zakharia 1-2

Pasal 1 dibuka dengan panggilan untuk berbalik kepada Allah. Hal ini menggambarkan bahwa Allahlah yang berinisiatif untuk menolong umat-Nya. Panggilan itu dilanjutkan dengan penglihatan tentang kuda-kuda dan para tukang besi yang menghancurkan musuh. Di pasal 2, TUHAN memberikan penglihatan yang menegaskan bahwa Dia mengukur Yerusalem untuk dilindungi. Dia sendiri yang akan menjadi tembok bagi Yerusalem. Tiga penglihatan ini diakhiri dengan panggilan yang kedua kalinya kepada umat-Nya untuk bertobat dan kembali kepada-Nya.

Siapakah TUHAN yang memanggil umat Israel untuk bertobat? Bukankah Israel dijajah oleh bangsa Persia? Bukankah itu berarti bahwa ilah Persia lebih berkuasa dibandingkan Allah Israel? Cukup berkuasakah Allah Israel untuk memanggil umat-Nya kembali--yang berarti Dia mampu mengatasi ilah Persia? Dalam bacaan Alkitab hari ini, beberapa kali, TUHAN atau YHWH disebut sebagai TUHAN Semesta Alam. Sebutan itu menggambarkan dua hal: Pertama, TUHAN berkuasa atas alam semesta, termasuk atas ilah Persia. Kedua, TUHAN yang berkuasa itu juga setia pada perjanjian-Nya dengan umat-Nya. Artinya, keberadaan dan kuasa-Nya cukup untuk memanggil kembali umat-Nya yang sedang dijajah oleh bangsa Persia. Dia menyediakan anugerah untuk memulihkan umat-Nya. Dia mengajak umat-Nya untuk meninggalkan dosa dan memusatkan hidup pada TUHAN Semesta Alam. Dia adalah Penguasa alam semesta yang berfirman dan berkarya selaras dengan pribadi-Nya yang adil, sekaligus bijaksana, penuh belas kasihan, dan setia. Kita dapat melihat bagaimana Tuhan menggunakan kekuasaan-Nya atas negara super power saat itu, yaitu Persia. Saat Darius menata ulang administrasi kekaisarannya, dokumen Dekrit Kores--yang sudah lama dibuat--ditemukan kembali di istana (Ezra 6), sehingga Darius mengizinkan pembangunan kota Yerusalem dilanjutkan, sekaligus mendanainya dari pajak kerajaan. Saat Yerusalem miskin dan tak berdaya, Allah menggerakkan imperium terbesar di dunia saat itu untuk melindungi rencana penebusan-Nya yang kelak memuncak pada diri Kristus.

Jelas bahwa saat umat-Nya berdosa, Allah menghukum mereka. Akan tetapi, Dia juga memberi kesempatan untuk bertobat, meninggalkan dosa dan kembali kepada-Nya. TUHAN menyebut dan menempatkan umat sebagai "biji mata-Nya" (2:8). Akan tetapi, hal itu tidak berarti bahwa Dia memanjakan mereka. Sebaliknya, Dia menjaga agar umat-Nya tetap menjadi umat yang kudus. Saat Anda jatuh ke dalam dosa, apakah Anda segera kembali kepada-Nya, yaitu kepada TUHAN Allah Semesta Alam?

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.
Yakobus 5: 16


www.gky.or.id | Gereja Kristus Yesus Copyright 2019. All rights Reserved. Design & Development by AQUA GENESIS Web Development & Design